0 Comment
jenis Tari-Tarian tradisional yang berasal dari sulawesi utara

Jenis-Tari-Tarian-Tradisional-yang-berasal-dari-Sulawesi-utara

-Tarian Sulawesi utara-Postedby-BukanTrik-, Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi yang terletak di ujung Pulau Sulawesi, dengan Ibu kota nya adalah Manado yang berbatasan dengan Negara Filipina di sebelah utara.. Sulawesi Utara mempunyai latar belakang sejarah yang cukup panjang sebelum sulut menjadi sebuah Daerah Provinsi.

Dalam sejarah pemerintahan daerah Sulawesi Utara, seperti halnya daerah lainnya di Indonesia, mengalami beberapa kali perubahan administrasi pemerintahan, seiring dengan dinamika penyelenggaraan pemerintahan bangsa.

Pada permulaan kemerdekaan Republik Indonesia, daerah ini berstatus keresidenan yang merupakan bagian dari Propinsi Sulawesi. Propinsi Sulawesi ketika itu beribukota di Makassar dengan Gubernur yaitu DR.G.S.S.J. Ratulangi.

Secara umum kehidupan di Kota Manado sama dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Yang mana Pusat kota terdapat di Jalan Sam Ratulangi yang banyak dibangun pusat-pusat perekonomian yang terletak di sepanjang jalur utara-

Seperti halnya daerah lain di Indonesia Sulawesi utara juga memiliki keragaman budaya dan seni tradisi yang masih kental dan menjadi bagain dari kehidupan kebudayaan mereka. Salah satu yang ,masih di lestarikian oleh masyarakat manado adalah seni tari nya. Ada beberapa jenis tarian yang terkenal di provinsi Sulawesi utara berikut penjelasan lengkapnya

Tarian Tradisional Kabasaran / Kawasaran



Tari Kabasaran merupakan jenis tarian perang dari suku Minahasa. Tarian ini tidak di tari kan sendiri, melainkan berkelompok. Salah satu keunikan nya dimana Para penari memakai pakaian merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur atau gong kecil sembari menyandang pedang dan tombak tajam sebagai senjata yang khas di gunakan. Ciri gerakan dari tarian kabasaran menyerupai gerakan silat seperti sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4/4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan.

seTiap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu karena tarian Kabasaran merupakan keahlian turun-temurun. Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak. Babak-babak tersebut terdiri dari cakalele, lumoyak, dan lalaya‘an.

Pada jaman dahulu, para penari Kabasaran hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, apabila Minahasa dalam keadaan perang, maka para penari Kabasaran menjadi waranei (prajurit perang). tarian Kawasaran atau Kabasaran acapkali ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu daerah maupun ditampilkan pada festival-festival kebudayaan di Sulawesi Utara.

Tarian Kabasaran sangat berbeda dengan jenis tarian lainnya di Indonesia yang umumnya mengumbar senyum dengan gerakan yang lemah gemulai. Tarian ini didominasi dengan warna merah, rias wajah yang sangar, serta lantunan musik yang membakar semangat. Tak hanya itu, mereka dibekali pedang dan tombak tajam, sehingga membuat tarian Kabasaran terkesan rancak dan garang.

Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata ‘wasal‘ yang bermakna ayam jantan yang dipotong jenggernya agar sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung. Tarian ini diiringi oleh suara tambur atau gong kecil. Alat musik pukul seperti gong, tambur atau kolintang disebut pa ‘wasalen dan para penarinya disebut kawasalan, yang berarti ‘menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung‘.

Tari Tradisional Mesalai



Mesalai merupakan salah satu jenis tarian tradisional yang berasal dari Provinsi Sulawesi Utara. Kesenian yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Kepulauan Sangihe Talaud ini dahulu merupakan bagian dari suatu upacara ritual sebagai perwujudan rasa syukur kepada Genggona Langi Duatung Saluruang (Tuhan Yang Maha Tinggi Penguasa Alam Semesta) atas segala anugerah yang telah diberikan-Nya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan masuknya agama-agama baru, tari mesalai saat ini juga digunakan sebagai pelengkap upacara adat dan syukuran, seperti: khitanan, perkawinan, mendirikan rumah adat baru, peresmian perahu baru dan lain sebagainya.


Peralatan musik (waditra) yang digunakan untuk mengiringi tari mesalai memiliki 5 macam irama yang di sebut irama tegonggong yang terdiri dari :
  1. tengkelu bawine (irama untuk wanita);
  2. tengkelu sonda (irama untuk pria);
  3. tengkelu sahola (irama lincah);
  4. tengkelu balang (irama mendayung); dan
  5. tengkelu duruhang (irama menyusur pantai).
Irama musik tegonggong ini dipadukan dengan sasambo atau lagu pujaan yang berisi ajaran tentang baik dan buruk, hubungan antar manusia, manusia dengan Sang Pencipta, dan manusia dengan alam lingkungannya.

biasanya penari menggunakan pakaian adat yang disebut laku tepu. Busana ini terbuat dari tumbuhan sejenis pisang yang kadang disebut juga serat manila. Selain itu, para penari pria juga menggenakan tutup kepala yang terbuat dari lipatan kain yang disebut paporong dan sapu tangan (lenso).

Sedangkan, busana yang dikenakan oleh penari wanita diantaranya adalah: laku tepu, papili (mahkota yang terbuat dari kulit penyu yang dihiasi sejenis bunga angrek), topo-topo (rangkaian bunga yang dililitkan pada sanggul), soho (kalung), galang (gelang), lenso (sapu tangan), dan boto pasige (sanggul).

Pertunjukan tari mesalai diawali dengan masuknya para penari wanita yang berjalan dengan lemah gemulai, lalu memberi hormat (mindura) pada para penonton. Dalam gerakan menghormat tersebut, penari diiringi tabuhan tegonggong dengan irama tengkelu bawine dan nyanyian sasambo yang syairnya berbunyi “Kawansang ana gune, kumandang kapetuilang” (keagungan penari wanita, kerdipan mata seperti disangga).

Setelah itu, para penari pria akan menyusul masuk pentas dan kemudian memberi hormat pada para penonton. Selanjutnya, mereka langsung menari dengan gerakan kaki yang dihentak-hentak ke lantai dan gerakan tangan yang diayunkan ke muka sesuai dengan tabuhan tegonggong yang berirama tengkelu senda (irama laki-laki). Sedangkan, syair sasambo yang dinyanyikan berbunyi “Su pedimpolangang, salaing ese mang ene”, yang artinya “dalam setiap pertemuan tarian tetap (harus) ada”.

Kemudian, para penari akan membentuk lingkaran sambil terus menghentakkan kaki dan mengayunkan tangan ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Irama yang ditabuh dalam mengiringi gerakan ini adalah tengkelu sahola dan syair lagu yang dinyanyikan berbunyi “Sengkalitu sengkara angeng, sengka pemedi limbene” yang artinya, “serempak dan bersama-sama naik, serempak melenggangkan tangan.”

Selanjutnya, para penari pria akan berpasangan dengan penari wanita untuk menarikan tari pergaulan yang disebut medalika. Pada gerakan tari ini para penari memegang sapu tangan dengan kedua belah tangan dan berputar membentuk lingkaran. Kemudian para penari wanita akan berjongkok dan penari pria mengelilinginya sambil melakukan gerakan mengaleke.

Ketika irama tegonggong berganti menjadi tengkelu balang, para penari berganti posisi dan mulai memainkan gerakan mendayung yang merupakan simbol dari masyarakat Sangihe Talaud yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Dalam gerakan ini sasambo yang dinyanyikan berbunyi “Dasalipe mapia, salai megugunena”, yang artinya “berbalaslah lagu secara serasi, para penari semakin halus dan mantap.”

Gerakan selanjutnya adalah salaing durung (menyusuri pantai). Pada gerakan ini para penari akan menari sambil menghentakkan kaki diiringi irama tengkelu durunghang dan syair sasambo yang berbunyi “Gagaweangu sangihe, ndai tuo katamang” (kebudayaan Sangihe Talaud, semoga tumbuh dan berkembang). Setelah syair sasambo selesai dinyanyikan, para penari akan memberi hormat pada para penonton sebelum meninggalkan panggung.

Mesalai sebagai tarian khas orang Sangihe Talaud, yang didalamnya mengandung nilai estetika (keindahan), sebagaimana yang tercermin dalam gerakan-gerakan tubuh para penarinya, juga mengandung nilai kerukunan dan kesyukuran.

Fungsi yang terkandung dalam seni tari mesalai adalah untuk menjalin kerukunan antar warga masyarakat . karena pada ajang tari ini semua warga dalam suatu kampung atau desa berkumpul untuk merayakan suatu upacara adat dan saling bersilaturahim sehingga dapat menciptakan suatu kerukunan di dalam kampung atau desa tersebut.

Sedangkan, nilai kesyukuran tercermin dalam tujuan diselenggarakannya tarian tersebut, yang merupakan salah satu unsur dalam penyelenggaraan suatu upacara adat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Tari Maengket



Tari maengket merupakan salah satu jenis seni tarian rakyat Minahasa dan menjadi ajang tontonan rakyat. Tarian ini disertai dengan nyanyian yang diiringi alat musik gendang atau alat musik tambur yang biasanya dilakukan sesudah panen padi sebagai ucapan syukur kepada Sang Pencipta.

Demikian penjelasan lengkap mengenai Nama macam-macam “jenis Tari-Tarian tradisional yang berasal dari sulawesi utara” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya


Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan sopan

 
Top