-->

Upacara adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Sulawesi Tenggara

Upacara adat suku tolaki sulawesi tenggara

Upacara-adat-dan-Sistem-Kepercayaan-Sulawesi-Tenggara

-Upacara adat Sulawesi tenggara-Postedby-BukanTrik-, Kebanyakan masyarakat (suku-suku bangsa) yang ada di provinsi Sulawesi Tenggara umumnya memeluk agama Islam. Namun demikian dalam kehidupan sehari-hari masih terlihat sisa-sisa dari kepercayaan nenek moyang yang terdahulu yang memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme. Karena itu di kalangan masyarakat terdapat berbagai upacara keagamaan yang dilaksanakan. Misalnya upacara Monahu khau yakni upacara setelah potong padi.

Masyarakat pada masa itu beranggapan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai makna. Mereka percaya bahwa tiap benda/makhluk mempunyai jiwa atau roh seperti jiwa manusia yang secara tak langsung dapat dilihat dengan mata. Jika ada orang meninggal maka tubuhnya yang hancur sedang jiwanya tetap hidup dan seakan-akan tinggal di sekelilingnya.

Jadi mereka beranggapan bahwa dunia dimana kita hidup terdapat jiwa orang-orang yang sudah meninggal. Begitu pula makhlul lain yang tidak Nampak sering diibaratkan dengan hantu, kuntilanak, dan sebagainya.

Mereka beranggapan orang-orang yang telah meninggal tidak lepas dari masyarakat (orang-orang yang masih hidup). dan mereka itu tetap memperhatikan orang-orang yang ditinggalkan. Atas kepercayaaan ini, maka mereka selalu mengadakan pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Yang dilakukan melalui upacara-upacara ritual adat tradisional,

Dalam melakuan ritual adat mereka selalu membacakan mantra sebagai tata cara pelaksanaan upacara adat. Mantra merupakan salah satu tradisi yang berkembang secara lisan dan tergolong ke dalam salah satu bentuk tradisi lisan. dalam Melakukan prosesi ritual mantranya disesuaikan dengan waktu dan jenis mantranya. Kepercayaan masyarakat setempat bahwa terkabul tidaknya mantra yang dilakukan oleh dukun tergantung konteks waktu dan tempatnya.

Setiap mantra memiliki kekhasan tersendiri dari segi bahasa dan kelengkapan ritualnya. Karena sebuah mantra bila diucapkan pada sembarang tempat bukan pada tujuannya, maka akan hilang kekuatannya.

Penggunaan bahasa mantra disesuaikan dengan upacara-upacara pembacaan mantranya seperti saat memandikan bayi yang baru lahir (mesosambakai), upacara penyucian diri karena melanggar adat atau mantra penolak bala (mosehe), memasuki rumah baru (pewiso laika wo’ohu), dan keselamatan pernikahan (mohue o sara) dalam masyarakat Tolaki

upacara adat umumnya berhubungan dengan kehidupan individu atau siklus kehidupan yang dimulai dari saat seorang wanita hamil, melahirkan, kemudian dewasa, melaksanakan perkawinan kemudian kematian. Upacara adat yang terdapat di provinsi sulawesi tenggara yang berhubungan dengan lingkaran kehidupan ini antara lain diantaranya
  • Meosambaki yaitu selamatan bagi anak pertama yang berusia 7 hari,
  • Mekui atau Mosere Curu yakni pemotongan rambut pada waktu bayi berumur 7 tahun,
  • biasanya satu sampai empat malam anak ini dikurung, dan pada upacara ini anak tersebut disunat atau Manggilo.
  • Kemudian upacara Mee Eni bila anak berusia 15 tahun hingga masa peralihan dari kanak-kanak hingga dewasa.Dalam upacara ini diadakan perataan gigi dengan benda keras, biasanya batu atau kikir.

Upacara Adat Pasuo


Tradisi Upacara Pasuo di Sulawesi Tenggara sudah berlangsung sejak zaman kesultanan Buton. Upacara Posuo diadakan sebagai sarana peralihan seorang gadis dari remaja (labuabua) menjadi dewasa (kalambe) serta untuk mempersiapkan mentalnya. Upacara tersebut diadakan delapan hari delapan malam dalam ruangan khusus yang oleh masyarakat disebut dengan suo. Selama di kurung di suo, peserta di jauhkan dari dunia luar, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Para peserta hanya boleh berhubungan dengan bhisa (pemimpin upacara posuo) yang telah ditunjuk oleh pemangku adat setempat. Para bhisa akan membimbing dan memberi petuah berupa pesan moral, spiritual dan pengetahuan membina keluarga yang baik untuk para peserta.

Upacara Adat Kabuenga


ini adalah tradisi untuk mencari pasangan hidup atau jodoh yang disebut dengan kabuenga. Tradisi ini memang rutin dilakukan di kepulauan wakatobi setiap tahunnya ini digelar di lapangan terbuka dan diikuti oleh semua penduduk wakatobi yang sudah akil balig baik perempuan maupun laki-laki.

Dalam tradisi ini setiap laki-laki dan perempuan yang menyatakan berniat untuk hidup bersama disandingkan pada semacam ayunan di tengah-tengah lapangan terbuka agar semua orang dapat menyaksikannya. Proses runutnya tradisi kabuenga ini adalah pertama-tama penduduk menyiapkan ayunan di tengah-tengah lapangan terbuka sebagai media pertemuan antara laki-laki dan perempuan yang mencari jodoh hingga diucapkannya ikrar untuk hidup bersama. 

Dalam tradisi kabuenga ini, para wanita yang akan mencari pasangan hidup ini berkumpul melingkari ayunan dengan mengenakan pakaian adat wakatobi dan membawa makanan tradisional yang bermacam-macam dan biasanya berwarna mencolok dan di tata sedemikian rupa sehingga terlihat menarik. Kemudian para wanita ini menarikan sebuah tarian yang bernama pajoge dengan iringan gendang dan bunyi gog sebagai pembuka prosesi sakral ini. Ketika permainan ini sedang dimainkan oleh para wanita tadi laki-laki dipersilahkan memberikan uang kepada sang wanita.

Upacara kematian batubangewea


Dalam mengurus mayat suku-suku bangsa di Sulawesi Tenggara bila seorang raja cara-cara bangsawan meninggal, sebagai pertanda dipukul gong secara berkepanjangan disebut batubangewea. Di saat nafas terakhir disembelihkan seekor kerbau yang disebut katu mbenao. Kemudian kepada semua kerabat diberi tahu dengan mendatanginya, oleh orang yang diberi tugas dengan membawa perangkat adat berupa lingkaran rotan dililit tiga dan diikat secarik kain putih.

Dengan cara ini, yang didatangi sudah mengerti bahwa itu merupakan berita kematian. Setelah mayat disimpan semalam lalu dimasukkan ke dalam tempat semacam peti mati yang disebut soronga, dibuat dari sebatang pohon. Setelah itu mayat dalam soronga di bawa ke gua batu atau disimpan dalam rumah-rumah yang khusus dibuatkan untuk itu, biasanya di tengah hutan.

Upacara Adat Perkawinan


Tradisi perkawinan etnis Tolaki mensyaratkan pembayaran kepada keluarga Si gadis pada saat pertunangan dan perkawinan. Nilai mahar tergantung pada tingkatan sosial dari Si pemuda. Sebelum perkawinan, pemuda tersebut harus melayani dan menjalani masa percobaan dengan calon mertuanya, dan persyaratan ini memperkuat tingkatan pertunangan yang lebih tinggi.

Demikian penjelasan lengkap mengenai nama macam-macam contoh“Upacara Adat istiadat dan Sistem Kepercayaan Sulawesi Tenggara” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya


0 Response to "Upacara adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Sulawesi Tenggara"

Post a Comment

silahkan berkomentar dengan sopan