-->

Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan provinsi Kepulaun Riau

Upacara adat istidat dan kepercayaan suku melayu Riau

Upacara-Adat-istiadat-Provinsi-Riau

-Upacara Adat Riau-Postedby-BukanTrik-, tradisi adat istiadat merupakan sistem norma dengan berbagai aturan atau ketentuan yang mengikat warga dan kelompok di masyarakat. Adat istiadat mempunyai sifat yang kekal dan mempunyai kekuatan mengikat yang lebih besar terhadap anggota masyarakatnya .

sedangkan upacara adat merupakan bagian dari prosesi tradisi adat istiadat yang dilakukan secara turun temurun sebagai bagian dari budaya yang melekat pada setiap masyarakatnya

tidak sedikit dari upacara adat yang dipengaruhui oleh sistem kepercayaan dan unsur keyakinanan masyarkatnya serta agama yang dianutnya. tradisi Melayu, ada semacam ungkapan "Adat Bersendikan Syarak, dan Syarak Bersendikan Kitabullah". Hal ini menyiratkan bahwa secara langsung atau tidak tradisi kebudayaan melayu tetap berpegang teguh pada ajaran Islam

dalam kehidupan masyarakat orang Melayu Kepulauan Riau dikenal kepada beberapa upacara yang dilakukan oleh orang Melayu kepada ketiga unsur daur kehidupan manusia , yaitu kelahiran, perkawinan dan kematian. Ketiga upacara utama inilah amatlah pentingnya dalam kehidupan orang Melayu, karena manusia hidup melalui kepada tiga masa yang paling penting, yaitu ketika manusia dilahirkan ke dunia, memasuki jenjang perkawinan dan saat manusia meninggalkan dunia yang fana.

Akan tetapi memandangkan kepada kehidupan itu sendiri tidaklah hanya melaui pada ketiga “masa” penting itu saja, melainkan juga ketika memasuki masa kanak dengan segala kelangkapannya, masa remaja atau akhil balig kemudian barulah memasuki masa perkawinan. Kemudian pula mengalami berbagai kegiatan kehidupan bermasyarakat yang syarat oleh aturan ataupun tata cara sekaliannya, sehinggalah memasuki usia tua, akhirnya kembali Kepada Sang Pencipta Allah azza wajallah.

ada beberapa tradis upacara adat yang dimiliki provinsi kepulauan riau yang masih dilaksanakan sebagai secara tutn temurun oleh masyarakat melayu diantaranya sebagai berikut:

Upacara Adat Perkawinan Melayu Riau


Adapun tahapan upacara Perkawinan Melayu Riau itu secara umum adalah sbb:
  • Merisik
  • Meminang
  • Mengantar tanda
  • Mengantar Belanja
  • Perhelatan Pernikahan
  • Hari Pernikahan
  • Berinai Curi
  • Berandam
  • Akad Nikah
  • Bernilai Lebai
  • Khatam Al-Qur’an
  • Hari Langsung / Bersanding
  • Hari menyembah mertua
  • Mandi damai / Mandi taman.

Ada upacara-upacara adat Selain Upacara Perkawinan, ada beberapa upacara adat yang berkembang di masyarakat Riau, yaitu:

UPACARA ADAT BALIMAU Kasai


Prosesi Balimau Kasai merupakan sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat Kampar di Provinsi Riau untuk menyambut bulan suci Ramadan. Acara ini biasanya dilaksanakan sehari menjelang masuknya bulan puasa. Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa, juga merupakan simbol penyucian dan pembersihan diri. Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas.

Sedangkan kasai merupakan wangi- wangian yang dipakai saat berkeramas. Bagi masyarakat Kampar, pengharum rambut ini (kasai) dipercayai dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada dalam kepala, sebelum memasuki bulan puasa.

Tradisi Balimau Kasai di Kampar, konon telah berlangsung berabad- abad lamanya sejak daerah ini masih di bawah kekuasaan kerajaan. Upacara untuk menyambut kedatangan bulan Ramadan ini dipercayai bermula dari kebiasaan Raja Pelalawan. Namun ada juga anggapan lain yang mengatakan bahwa upacara tradisional ini berasal dari tradisi adat Sumatera Barat. Bagi masyarakat Kampar sendiri upacara Balimau Kasai dianggap sebagai tradisi campuran Hindu- Islam yang telah ada sejak Kerajaan Muara Takus berkuasa.

Keistimewaan Balimau Kasai merupakan acara adat yang mengandung nilai sakral yang khas. Wisatawan yang mengikuti acara ini bisa menyaksikan masyarakat Kampar dan sekitarnya berbondong-bondong menuju pinggir sungai (Sungai Kampar) untuk melakukan ritual mandi bersama. Sebelum masyarakat menceburkan diri ke sungai, ritual mandi ini dimulai dengan makan bersama yang oleh masyarakat sering disebut makan majamba.

UPACARA ADAT BATOBO


Prosesi Batobo merupakan kegiatan bergotong royong dalam mengerjakan sawah, ladang, dan sebagainya. yang biasa diilakukan oleh suku ocu (Bangkinang). batobo dilakukan untuk meringankan pekerjaan pertanian seseorang, dengan demikian akan lebih cepat selesai dan lebih mudah. Batobo di dirikan dalam sebuah kelompok, yang mempunyai seorang ketua untuk mengatur jadwal kerja setiap anggota. Kebanyakan kelompok batobo melakukan kegiatan secara bergiliran untuk setiap anggota kelompok batobo.

keUnikan prosesi batobo memiliki tujuan untuk menyemangati orang-orang dalam bekerja, Tidak hanya itu, Batobo juga sering di iringi dengan rarak godang. Rarak godang ini adalah semacam permainan alat musik tradisional, seperti Talempong, Gong, Gendang, dll. yang melantunkan instrumen-instrumen lagu-lagu daerah yang sudah sejak lama di kenal di masyarakat.

UPACARA ADAT BELIAN


Prosesi Upacara adat belian merupakan upacara adat yang bertujuan untuk tolak bala yang umumnya ditujukan untuk empat hal, yaitu untuk mengobati orang sakit, membantu orang hamil yang dikhawatirkan sulit melahirkan, untuk mengobati kemantan, dan untuk menolak wabah penyakit.

dalam sejarah masyarakat Melayu Riau, Suku Petalangan dikenal sebagai suku yang memiliki banyak adat istiadat. Contohnya adalah upacara belian yang sampai sekarang masih tetap dilestarikan. Upacara ini merupakan ajaran leluhur agar manusia menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan makhluk yang terlihat maupun tidak. Upacara ini juga bertujuan agar manusia bersyukur kepada Tuhan atas kesehatan mereka

Belian menurut bahasa orang Petalangan diambil dari beberapa arti. Menurut mereka, belian adalah nama kayu yang keras dan tahan lama. Kayu belian ini pada masa lalu biasa digunakan untuk bahan membuat ketobung, yakni gendang untuk mengiringi upacara adat. Kayu ini juga baik untuk bahan membuat bangunan rumah adat. Menurut kemantan (orang yang dapat berkomunikasi dengan makhluk gaib), kayu belian disebut juga dengan kayu putih sangko bulan yang berarti kayu tempat tinggal jin yang baik

Kata belian juga dipercaya berasal dari kata bolian yang berarti persembahan. Belian juga dianggap berasal dari kata belian yang berarti budak atau hamba sahaya. Dari arti-arti tersebut, secara umum, upacara belian dapat diartikan sebagai upacara persembahan kepada Tuhan agar diselamatkan dari marabahaya dan mengharap kesembuhan serta perlindungan dari beragam penyakit dan gangguan makhluk gaib yang jahat

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Upacara adat belian digelar pada malam hari. Malam dianggap waktu yang tepat untuk bedoa dan memohon kepada Tuhan. Selain itu, pada malam hari biasanya seluruh warga suku dapat berkumpul bersama karena jika siang hari mereka bekerja di hutan. Upacara ini biasanya digelar di rumah orang yang sakit atau di rumah adat yang besar. Selain itu, pemangku adat dibantu oleh warga akan membuat rumah-rumah kecil di depan rumah tempat upacara sebagai salah satu syarat upacara.

Pemimpin dan Peserta Upacara

Upacara adat belian dipimpin oleh kemantan atau mantan (orang yang ahli mengobati penyakit). Selain karena ahli, seorang kemantan dipilih karena ia dianggap dapat menjalin komunikasi dengan makhluk gaib. Selama upacara berlangsung, Kemantan akan berhubungan dengan makhluk gaib yang baik dan meminta mereka ikut hadir untuk membantu menyembuhkan penyakit pasien. Upacara belian biasanya dihadiri oleh seluruh anggota suku atau oleh keluarga yang sakit dan sanak kerabat mereka. Meskipun demikian, upacara adat belian melibatkan warga suku secara keseluruhan karena upacara ini adalah upacara kolektif (bersama).

4. Peralatan dan Bahan

Upacara adat belian memerlukan beragam alat dan bahan, antara lain:
  1. Puan, rangkaian daun kelapa muda (janur) yang dihiasi bunga-bungaan;
  2. Dame (damar), obor yang terbuat dari damar yang ditumbuk halus;
  3. Dian, lilin besar yang dibuat dari sarang lebah yang diberi sumbu kain pintal dan dilekatkan pada tempurung kelapa;
  4. Gonto, genta dari kuningan;
  5. Pending, kepala ikat pinggang kemantan dari perak atau kuningan;
  6. Kain kesumbo, kain warna merah untuk tudung kemantan;
  7. Destar atau tanjak, ikat kepala kemantan;
  8. Mangkuk putih, tempat meracik limau dan cincin tanda orang minta obat;
  9. Cincin perak milik orang yang sakit;
  10. Padi;
  11. Mayang, daun kepau (sejenis palem);
  12. Kayu gaharu untuk dibakar;
  13. Pisau kecil;
  14. Ketitipan, berbagai jenis jamur dari pucuk daun kepau;
  15. Jeruk limau;
  16. Sanding dan lancang, sejenis perahu yang terbuat dari pelepah kelubi (pohon asam paya);
  17. Balai pelesungan, rumah-rumahan tidak beratap dari pelepah kelubi;
  18. Bokal, sesaji yang dibungkus daun pisang;
  19. Mondung (ayam);
  20. Hidangan yang terdiri dari nasi kunyit, panggang ayam, telur rebus, gulai ayam, dan daging hewan lain;
  21. Balai induk, bangunan khusus yang dibuat di depan rumah tempat upacara digelar;
  22. Tikar pandan putih.

Seluruh perlengkapan dan bahan di atas disiapkan oleh dua orang khusus yang disebut tuo longkap dan pebayu. Selain betugas untuk hal itu, pebayu juga bertugas memeriksa semua perlengkapan dan bahan-bahan. Jika belum lengkap, maka pebayu harus mencari kelengkapannya sebelum upacara dimulai. 

Penyiapan segala perlengkapan dan bahan-bahan upacara juga akan dibantu oleh warga suku dan anak iyang, yaitu orang yang pernah minta tolong kepada kemantan, baik untuk berobat maupun keperluan lainnya. Jika dalam keadaan darurat, perlengkapan dan bahan-bahan di atas diperbolehkan dibuat secara sederhana. Keadaan darurat itu antara lain seperti banyak orang yang sakit atau serangan binatang yang mengganas sehingga tidak ada orang yang berani ke hutan mencari pelengkapan.

UPACARA ADAT MENYEMAH LAUT


Upacara Menyemah Laut, adalah upacara untuk melestarikan laut dan isinya, agar mendatangkan manfaat bagi manusia.

Demikian penjelasan lengkap seputar “Upacara Adat Istiadat dan Kepercayaan Suku Melayu Kepulaun Riau” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya


0 Response to "Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan provinsi Kepulaun Riau"

Post a Comment

silahkan berkomentar dengan sopan