-->

Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Suku Dayak Kalimantan Tengah

Upacara adat Istiadat dan Kepercayaan suku dayak kalimantan tengah

Upacara-Adat-Kalimantan-Tengah-dan-Sistem-Kepercayaan

- Upacara adat kalimantan tengah-Postedby-BukanTrik-, Orang dayak terbagi atas beberapa suku bangsa seperti ngaju ot danum, ma’anyan, ot sinag, lawangan, katingan dan lain-lain, mereka berada di provinsi Kalimantan tengah dan telah menganut agama islam, kristen prostestan, katolik, dan kaharingan (pribumi)

Agama asli orang dayak adalah kaharingan, sebutan kaharingan dari kata danum kaharingan yang berarti air kehidupan, dalam dongeng-dongeng suci, air itu dipercaya dapat memberi hidup kepada manusia

Umat kaharingan percaya bahwa alam sekitar tempat tinggal manusia penuh dengan mahkluk-mahkluk halus dan roh-roh (ganan dalam bahsa ngaju) yang mendiami tiang-tiang rumah, batu-batu besar, pohon-pohon besar, hutan belukar, dan air ganan mempunyai sebutan-sebutan sendiri-sendiri yaitu:
  • Sangiang, nayu-nayu (bahasa ngaju) yaiut roh-roh baik
  • Taloh, kambe(bahasa ngaju) yaitu roh-roh jahat
Disamping ganan, ada segolongan mahkluk halus yang mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan orang dayak, yaiut roh nenek moyang(liau dalam bahasa ngaju, rio dalam bahas ma’anyan) Menurut kepercayaan orang dayak jiwa (hambaruan) orang mati meninggalkan tubuh dan menempati alam sekekling tempat tinggal manusia sebagai liau.

Lambat laun liau ini akan kembali kepada dewa yang tertinggi yang disebut ranying. Tetapi prosesnya memakan waktu yang sangat lama serta melalui macam-macam rintangan dan ujian untuk masuk kedalam dunia roh yang bernam lewu liau. Dan menghadap ranying.

Dalam sair-sair suci orang nagju dunia roh itu disebut negeri kaya raya” yang berpasir emas, berbukit intan, dan berkerikil manik, tempat yang tak ada kemalangan dan kesusahan serta kelelahan,

Upacara-upacara yang terdapat pada orang dayak dapat diuraikan sebagia berikut
  • Upacara keagamaan terhadap roh nenek moyangdan makhluk halus yang menempati alam sekelilingnya
  • Upacara menyambut kelahiran anak
  • Upacara memandikan bayi untuk pertama kali
  • Upacara memotong rambut bayi
  • Upacara penguburan mayat
  • Upacara pembakaran mayat

Suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) mengenal 2 macam sifat ritual tradisi yaitu ritual yang bersifat tradisi dan ritual yang bersifat mistis . Ritual upacara yang bersifat tradisional terdiri dari daur kehidupan manusia seperti kehidupan dan kematian sedangkan ritual mistis berupa ritual yang memberikan sesajen kepada leluhur agar di berikan kelancaran dan kemudahan dalam melakukan kegiatan dan aktivitasnya berikut penjelasan upacara adat istiadat suku dayak kalimantan tengah:

Upacara adat daur kehidupan dan kematian


Upacara adat istiadat Nahunan

Prosesi ritual upacara nahunan Merupakan upacara khas suku Dayak Kalimantan berupa upacara memandikan bayi secara ritual menurut kebiasaan suku Dayak Kalimantan Tengah. Dengan tujuan utama dari pelaksanaan upacara Nahunan merupakan prosesi pemberian nama sekaligus pembaptisan menurut Agama Kaharingan(agama orang dayak asli dari leluhur) kepada anak yang telah lahir.

Upacara Nahunan sendiri berasal dari kata "Nahun" yang berarti Tahun. Upacara adat nahunan digelar bagi bayi yang telah berusia setahun atau lebih. Prosesi pemberian nama dianggap oleh masyarakat Dayak sebagai sebuah prosesi yang bersifat sakral, karena alasan tersebut maka di adakan upacara ritual Nahunan.

Hasil pilihan nama anak tersebut lantas dikukuhkan menjadi nama aslinya. Selain itu juga merupakan upacara membayar jasa bagi bidan yang membantu proses persalinan hingga si anak dapat lahir dalam keadaan selamat.

Upacara Ritual Nahunan merupakan salah satu upacara adat yang Besar Suku Dayak Kalteng . Masyarakat Dayak khususnya Dayak di Pedalaman, hingga kini masih melestarikan adat istiadat ini sebagai bagian budaya dari kalimantan tengah, Suku Dayak meyakini jika keseimbangan antara Manusia, Alam dan Sang Pencipta merupakan suatu hubungan sinergis yang harus senantiasa tetap terjaga.

Upacara adat Tiwah

Prosesi adat istiadat Tiwah merupakan bagian dari upacara ritual kematian tingkat akhir yang di anut oleh masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak. Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja.

Ritual Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga - dalam Bahasa Sangiang) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa.

Kalau orang dayak meninggal mayatnya dikubur dulu dalam sebuah peti mayat yang terbuat dari kayu berbentuk perahu lesung (raung dalam bahas ngaju) kuburan itu dianggap sebagai kuburan sementara sebelum mayat dibakar dalam suatu upacara terpenting bagi orang dayak, yaiut upacara pembakaran mayat secara besar-besaran yang pada orang ngaju disebut tiwah (daro ot danum, ijombe : ma’anyan)

Pada upacara ini tulang belulang semua orang sekerabat yang telah meninggal digali kemudian dibakar dan abunya ditempatkan pada tempat pemakaman berupa bangunan (tambak). Upacara ini biasanya dilakukan oleh keluarga-keluarga luas secara besar-besaran dan berlangsung sampai 2-3 minggu

Pengunjung dari berbagai desa datang untuk merayakan upacara pembakaran mayat (tiwah), upacara tiwah memakan biaya yang cukup besar, biaya tersebut meliputi biaya makanan dan minuman untuk para tamu, biaya para pelaku upacara (para balian) dan biaya alat-alat music untuk mempertunjukan tarian suci yang menarik

Upacara adat pernikahan suku dayak kalimantan tengah


Prosesi Adat Penganten Mandai merupakan adat Tradisi yang dilaksanakan oleh Suku Dayak Ngaju mengingat nilai-nilai religius yang di dapat dari nenek moyang terdahulu dengan diringi Tarian giring-giring. Mangalindap Punei ataupun Manasai. Tarian Mangalindap Punei artinya Sebuah Tarian untuk menyambut mempelai pria dan membuka lawang kuwu (mempelai wanita yang di pingit sebelum di jemput untuk disandingkan dengan mempelai pria) sehingga dipertemukanya antara mempelai wanita dan pria tersebut.

Tarian mangalindap punei ini merupakan tarian pada umum nya dilaksanakan dalam prosesi Acara Adat Penganten Mandai guna mempertemukan kedua mempelai untuk disandingkan di atas pelaminan serta merupakan sebuah bentuk tarian yang membentuk suatu ikatan tali persaudaraan antar kedua belah pihak keluarga mempelai.

Acara adat penganten Mandai ini juga dipimpin oleh masing- masing 2 (dua) orang Mantir Adat (Rohaniawan Agama Kaharingan/orang yang dituakan dari Pihak mempelai pria dan mempelai wanita dalam proses pemberkatan nikah dan Tapung Tawar (Pemeberkatan mempelai).

Disamping itu juga mempelai pria harus didampingi oleh orang tua atau wali, keluarga dekat minimal 9 pasang suami istri yang berjumlah 18 orang serta Pengiring untuk mempelai pria 2 orang. Begitu pula untuk mempelai wanita harus didampingi oleh orang tua atau wali, keluarga dekat minimal 9 pasang suami istri yang berjumlah 18 orang serta Pendamping untuk mempelai pria 2 orang.

Didalam proses acara adat Penganten Mandai ini terdapat prosesi Pantan Laway/Lawang Sakepeng yaitu proses membuka suatu halangan yang dibuat guna kedua mempelai mampu mengahadapi segala rintangan dan cobaan dalam kehidupan. Kemudian Mamapas Dahiyang, yaitu proses adat untuk mengusir hal-hal yang tidak diinginkan. Selanjutnya Tingak Ajar, yaitu Pemberian Petuah-petuah untuk kedua mempelai sehingga selalu diberkati dan dilindungi oleh Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa) dalam mengarungi bahtera rumah Tangganya.

Penutup dari acara adat Penganten Mandai ini dilakukannya prosesi doa-doa untuk kedua mempelai sekeluarga dan undangan yang menghadiri, sebagai suatu ungkapan rasa syukur kepada Ranying Hatalla Langit sehingga dapat bersatunya kedua mempelai dalam suatu ikatan tali pernikahan yang tidak hanya mempersatukan keduanya tetapi juga seluruh keluarga dari kedua mempelai

b. Upacara ritual adat

Upacara Adat Dayak Manyanggar.


Istilah Manyanggar berasal dari kata "Sangga". Artinya adalah batasan atau rambu-rambu. Upacara Manyanggar Suku Dayak kemudian diartikan sebagai ritual yang dilakukan oleh manusia untuk membuat batas-batas berbagai aspek kehidupan dengan makhluk gaib yang tidak terlihat secara kasat mata.

Ritual Dayak bernama Manyanggar merupakan upacara adat tradisi masyarakat Dayak karena mereka percaya bahwa dalam hidup di dunia, selain manusia juga hidup makhluk halus. Sehingga Perlunya membuat tata aturan atau tapal batas dengan roh halus tersebut diharapkan agar keduanya tidak saling mengganggu alam kehidupan masing-masing serta sebagai ungkapan penghormatan terhadap batasan kehidupan makluk lain.

Ritual Manyanggar biasanya digelar saat manusia ingin membuka lahan baru untuk pertanian,mendirikan bangunan untuk tempat tinggal atau sebelum dilangsungkannya kegiatan masyarakat dalam skala besar. Melalui Upacara Ritual Manyanggar, apabila lokasi yang akan digunakan oleh manusia dihuni oleh makhluk halus (gaib) supaya bisa berpindah ke tempat lain secara damai sehingga tidak mengganggu manusia nantinya

Upacara Ritual Dayak Pakanan Batu

Upacara adat pakanan batu merupakan ritual tradisional yang digelar setelah panen ladang atau sawah. Upacara Suku Dayak bernama Pakanan Batu ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada peralatan yang dipakai saat bercocok tanam sejak membersihkan lahan hingga menuai hasil panen.

Benda atau barang dituakan dalam ritual dayak ini adalah batu. Benda ini dianggap sebagai sumber energi, yaitu menajamkan alat-alat yang digunakan untuk becocok tanam. Misalnya untuk mengasah parang, balayung, kapak, ani-ani atau benda dari besi lainnya.

Selain memberikan kelancaran pekerjaan, bagi para pemakai peralatan bercocok tanam danberladang, batu dianggap pula telah memberikan perlindungan bagi si pengguna peralatan sehingga tidak luka atau mengalami musibah saat membuka lahan untuk becocok tanam.

Demikian penjelasan lengkap seputar “Upacara Adat Istiadat dan Kepercayaan Suku Dayak Kalimantan Tengah” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya


0 Response to "Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Suku Dayak Kalimantan Tengah"

Post a Comment

silahkan berkomentar dengan sopan