-->

Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan provinsi Gorontalo

Upacara Adat istiadat suku Gorontalo

Upacara-Adat-Istiadat-dan-Sistem-Kepercayaan-provinsi-Gorontalo

-Upacara Adat Gorontalo-Postedby-BukanTrik,- Masyarakat yang ada di provinsi Gorontalo hampir seluruhnya memeluk agama Islam, yang masuk pada abad ke-16. Namun, mereka masih mempercayai makhluk-makhluk halus (motolohuta) dan kekuatan gaib (hulobalangi). Sebagian beranggapan makam para orang sakti dahulu adalah keramat.

Sehingga di masyakarat gorontalo terdapar beberapa Upacara adat tradisional terkait dengan kepercayaan akan adanya makhluk-makhluk yang mendiami alam raya ini, meliputi upacara untuk kesuburan tanah, menolak wabah penyakit, gerhana bulan, membuka hutan dan minta hujan.

Sedangakan properti dan Alat-alat yang digunakan untuk perlengkapan upacara harus lengkap. Tiap alat tersebut menunjukkan lambang religi magis. Bau asap kemenyan yang dibakar yang merupakan makanan setan, dianggap memiliki kekuatan menolak penyakit atau bencana sehingga melambangkan keamanan hidup masyarakat.

Gendang hanya bisa dibunyikan dalam upacara memanggil setan. Jika di luar itu, mereka menganggap para setan akan berdatangan memberikan bencana dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, kain merah yang menjadi ikat kepala para pelaksana upacara mewakili kawan setan. Karena itu, kalau dipakai sembarang orang memiliki daya magis yang dapat membawa penyakit atau bencana yang akan menimpa penduduk. Itulah sebabnya, jarang ditemukan pakaian warna merah dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam upacara tradisional orang Gorontalo.

Selain meyakini kepercayaan anemisme nenek moyak adat juga beberapa prosesi adat yang dipengaruhi budaya islam sebagai wujud rasa syukur akan kehidupan yang telah dianugrahkan ke pada kita yang di lakukan pada prosesi daur kehidupan manusia , seperti prosesi kelahiran, prosesi perkawinan dan prosesi adat lainnya . berikut adalah penjelasan beberapa nama macam adat istiadat tradisi suku gororntalo sebagai berikut:

Upacara Adat Tondhalo


Setiap daerah memiliki prosesi tradisi adat istiadat tersendiri sebagai wujud dari rasa syukur atas kehamilan seorang istri didalam keluarga. Di masyarkat sulbar pun memiliki tradisi dengan nama prosesi Tondhalo yaitu upacara yang dilakukan saat calon ibu memasuki kehamilan pertama yang ketujuh bulan. Prosesi tradisi adat ini bertujuan untuk memohon keselamatan bagi si ibu dan anak yang dikandungnnya

Prosesi yang umumnya dilakukan dalam upacara adat tondhalo adalah sebagai berikut: Kedua orang tua jabang bayi harus menggunakan pakaian adat Gorontalo. Lalu Ada seorang anak perempuan yang digendong oleh ayah jabang bayi mengelilingi rumah, lalu akhirnya masuk ke dalam kamar menemui ibu yang sedang mengandung. Setelah calon ayah dan anak perempuan yang digendongnya bertemu dengan ibu yang mengandung jabang bayi, maka tali yang terbuat dari daun kelapa yang melingkari perut ibu tersebut dipotong atau diputuskan.

Upacara Adat Perkawinan


Dalam melakukan upacara perkawinan, ada banyak aturan dan tata cara yang harus dilakukan oleh para calon mempelai suku Gorontalo. Kebanyakan dari tata aturan dan upacara perkawinan suku Gorontalo masih memegang tradisi turun temurun yang terus dilestarikan sebagai salah satu kebudayaan Indonesia.

Berikut adalah beberapa tata cara pelaksanaan upacara perkawinan provinsi Gorontalo Upacara diadakan di rumah kedua mempelai, yakni mempelai pria dan wanita secara bergantian. Upacara pernikahan bisa berlangsung lebih dari dua hari. Para kerabat bergotong royong dalam mempersiapkan acara pernikahan ini beberapa hari sebelum pernikahan dilaksanakan. Kedua mempelai menggunakan pakaian adat yang diberi nama Bili’u

Dalam adat istiadat gorontalo , setiap warna memiliki makna atau lambang tertentu, karena itu dalam upacara pernikahan masyarakat gorontalo hanya menggunakan empat warna utama , yaitu merah ,hijau , kuning emas , dan ungu. Warna merah dalam masyarakat gorontalo bermakna keberanian dan tanggung jawab , hijau bermakna Kesuburan, kesehjateraan , kedamaian dan kerukunan, kuning emas bermakna kemulian, kesetiaan ,kesabaran dan kejujuran sedangkan warna ungu bermakna keanggunan dan kewibawaan.

Pada umumnya masyarakat Gorontalo enggan memakai pakai warna coklat karena coklat melambangkan tanah , karena itu bila mereka ingin memakai pakaian warna gelap, maka mereka akan memilih warna hitam yang bermakna keteguhan dan Ketuhanan Yang Maha Esa , warna putih bermakna kesucian dan kedudukan , karena itu masyarakat gorontalo lebih suka mengenakkan warna putih bila pergi ke tempat perkebungan atau kedukaan atau tempat ibadah (masjid), biru muda sering digunakan pada saat peringatan 40 hari duka,sedangkan biru tua digunakan pada peringatan 100 hari duka.

Dalam adat perkawinan Gorontalo sebelum hari H , kerabat pengantin pria akan mengantarkan harta dengan membawakan buah-buahan , seperti jeruk , nangka ,nenas , tebu , setiap buah yang dibawah juga punya makna tersendiri misalnya buah jeruk bermakna bahwa pengantin harus merendahkan diri, duri jeruk bermakna bahwa pengantin harus menjaga diri 

dan rasanya yang manis bermakna bahwa pengantin harus menjaga tata krama atau sifat manis yang disukai orang. Nenas durinya juga bermakna bahwa pengantin harus menjaga diri dan begitu juga rasanya yang manis. Nangka dalam bahasa gorontalo langge loo olooto , yang berbau harum dan berwarna kuning emas yang bermakna pengantin harus mempunyai sifat penyayang dan penebar keharuman. Tebu warna kuning bermakna pengantin harus menjadi orang yang disukai dan teguh dalam pendirian.

Demikian penjelasan lengkap mengenai nama macam-macam contoh “Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Provinsi Gorontalo” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya


0 Response to "Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan provinsi Gorontalo"

Post a Comment

silahkan berkomentar dengan sopan