0 Comment
Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Sulawesi barat

Upacara-Adat-Istiadat-dan-Sistem-Kepercayaan-Sulawesi-barat

-Upacara Adat Sulawesi Barat-Postedby-BukanTrik-, Suku Mandar merupakan salah suatu etnis yang berada di Sulawesi Barat. Dulunya, sebelum terjadi pemekaran wilayah, suku Mandar bersama dengan etnis Bugis, Makassar, dan Toraja yang ikut mewarnai keberagaman di provinsi Sulawesi Selatan. Meskipun secara politis Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan memiliki sekat, secara historis dan kultural Mandar tetap memiliki ikan budaya terikat dengan “sepupu-sepupu” serumpunnya di Sulawesi Selatan.

Istilah Mandar merupakan ikatan persatuan antara tujuh kerajaan di pesisir (Pitu Ba’ba’na Binanga) dan tujuh kerajaan di gunung (Pitu Ulunna Salu). Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, “Sipamandar” (menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.

Pada zaman pra islam religi suku mandar makasar seperti tampak dari sure galigo yang mengandung suatu kepercayaan kepada satu dewa tunggal yang disebut dengan beberapa nama yaitu:
  • Patoto’e yaitu dewa yangmenentukan nasib
  • Dewata seuwa’e yaitu dewa yang tunggal
  • Turie a’rana yaitu kehendak yang tertinggi
Masyarakat mandar memiliki beberapa ritual adat yang biasa dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang diantaranya adalah sebagai berikut

Upacara adat pa’banetauan


Pa’banetauan merupakan salah satu upacara adat perkawinan yang mana upacara adat pabanetauan dilakukan sesudah prosesi adat Pa’bisuan. Dalam pelaksanaan perkawinan ditempuh beberapa prosesi adat diantaranya :
  1. Mangusik : utusan dari pihak laki-lakimenghubungi keluarga perempuan terdekat dari perempuan yang hendak dipinang.
  2. Ma’randang : dalam ma’randang hadir seluruh keluarga perempuan dan utusan resmi dari pihak laki-laki. Tujuan ma’randang ialah mendapat kata sepakat dari keluarga wanita secara resmi.
  3. Ma’somba : perkawinan dengan dengan memotong hewan. Jumlah hewan yang dipotong tergantung derajat kedua belah pihak.
Dahulu Mamasa mengenal poligami. Tapi pada praktek poligami terbatas pada orang-orang kaya.

Mengenai orang yang berzin4h dapat dituntut denda. Jika orang bercerai, orang yang menyebabkan perceraian itu wajib membayar somba (konpensasi perceraian), biasaanya dalam bentuk babi atau kerbau. Tingginya somba ditentukan sebelum atau pada masa perkawinan. Anak-anak bebas memilih dengan orang tua yang mereka ikuti

Upacara adat pa’bisuan


Pa’bisuan merupakan prosesi adat berupa upacara-upacara penyembahan dewa-dewa (dewa-dewa dilangit dan tempat lainnya) dan roh nenek moyang. Biasanya dilakukan sesudah acara pa’tomatean. Ada bermacam-macam pesta yang dilakukan dari kecil sampai besar. Prosesi adat ini tidak boleh dilaksanakan pada waktu ada orang yang meninggal.

Upacara adat pa’totiboyongan


Pa’totiboyongan merupakan Upacara adat yang dilaksanakn untuk menanam padi dan larangannya. Upacara ini dimulai dari pertama menyentuh pekerjaan di sawah sampai pada masa menyimpan padi di lumbung

Pemali-pemali pa’totiboyongan berhubungan dengan penanaman dan pemotongan padi. Hasil padi tergantung dari bagaimana perhatian pada pemali itu. Korban-korban harus dibawa pada pelbagai waktu, dari penuaian sampai penanaman padi. Dewa-dewa dan nenek moyang sangat dihormati, karena mereka dapat memberi rezeki dan kesehatan. Kalau tidak diperhatikan atau terjadi pelanggaran keagamaan, dapat memberi penyakit atau maut.

Upacara adat patomatean


Pa’tomatean merupakan prosesi upacara adat yang dilaksanakan sesudah masa pa’totiboyongan. Ikatan keluarga begitu kuat, sehingga tidak hilang sesudah orang meninggal. Orang Mandar sangat menghormati orang mati. Mereka telah masuk dalam suatu keadaan yang tidak dikenal. Mereka berkuasa untuk menguntungkan atau merugikan orang yang hidup.

Suatu kepercayaan bahwa ada suatu tempat roh-roh orang mati berdiam. Roh-roh itu juga berada di sekitar kita mengawasi apakah orang yang hidup masih membuat segala sesuatu menurut kebiasaan mereka dulu, seperti membuat berbagai upacara rambu solo (asap yang turun). Makin tinggi kedudukan seseorang, makin banyak kerbau atau babi yang dikorbankan, dan semakin lama mayat disimpan di dalam rumah. Pesta terbesar disebut allun (ma’pandan-tandalanggan/tandasau’), ini menjamin kehidupan di tempat orang mati.

Demikian penjelasan lengkap mengenai nama macam macam contoh “Upacara Adat Istiadat dan Kepercayaan Sulawesi Barat” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya


Post a Comment

silahkan berkomentar dengan sopan

 
Top