-->

Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Sulawesi Tengah

Upacara adat Sulawesi tengah

Upacara-Adat-Istiadat-dan-Sistem-Kepercayaan-Sulawesi-Tengah

-Upacara Adat Sulawesi Tengah-Postedby-BukanTrik-, upacara adat merupakan prosesi ritual adat tradisi yang berkaitan erat dengan sistem religi yang menjadi salah satu unsur kebudayaan yang paling sulit dirubah bila dibandingkan dengan unsur budaya yang lainnya yang menjadi bagian tradisi daerah yang masih tetap dipertahankan.

Selian itu juga prosesi upacara adat sangat erat dengan kepercayaan manusia terhadap dunia gaib yang didiami oleh berbagai mahluk halus dan roh-roh leluhur serta kekuatan yang tidak dapat dikuasai oleh manusia dengan cara-cara biasa sehingga ditakuti oleh manusia

Kepercayaan itu biasanya termasuk pada kebutuhan akan suatu bentuk komunikasi dangan tujuan untuk menangkal kejahatan, menghilangkan musibah atau untuk menjamin kesejahtraan. kebutuhan akan keselamatan dan ketentraman guna mempertahankan kelangsungan hidupnya yang dipenuhi oleh kepercayaan dan nilai-nilai yang terdapat dalam upacara keagamaan yang disebut upacara Tolak Bala (mompopaka ).

Anggapan masyarakat terhadap upacara Tolak Bala (mompopaka ) merupakan suatu bentuk upacara keagamaan yang bersifat sakral ( suci ) yang menjadi simboli sebagai wujud dari ekspresi jiwa mereka dalam menjalin hubungan vertikal dengan penghuni dunia gaib.

Sulawesi Tengah, didiami berbagai macam suku bangsa, antara lain suku Kaili, Kulawi, Lore, Pamona, Mori, Bungku, Saluan, Banggai, Balantak, Buol, Toli-toli dan masih banyak yang lain. Di setiap etnis itu, masih ada lagi sub-etnis yang lain. Sebut saja misalnya etnis Kaili, ada ratusan sub-etnisnya seperti Kaili Ledo, Kaili Tara, Kaili Rai, Kaili Doi, Kaili Unde, Kaili Da'a dan banyak lagi yang lain.

Dengan demikian, setiap sub etnis itu memiliki bahasa sendiri-sendiri dan ada kemiripan satu sama lainnya. Begitu Pun dengan adat istiadatnya, termasuk upacara-upacara adat yang cukup beragam dan sangat banyak.dimulai dari Proses untuk membuka ladang baru hingga panen saja, suku-suku sulawesi tengah memiliki upacara adat sendiri

selain porsei yang berifat mistis berupa keprcayaan terhadap kekuatan gaib dan roh leluruh nenek moyang, ada juga prosesi upacara adat yang menjadi bagian dari siklus kehidupan manusia. Bagi masyarakat Sulawesi Tengah secara keseluruhan, selalu ada upacaranya. 

Contoh nya dimulai sejak sebelum kelahiran bayi, yakni upacara masa hamil, kemudian upacara adat kelahiran, upacara adat sebelum dewasa, upacara adat perkawinan dan upacara kematian. Berikut penjelasan lengkap mengenai nama macam-macam upacara adat yang ada di provinsi sulawesi tengah diantaranya adalah :

Upacara Adat Kelahiran


setiap keluarga khususnya orang tua yang menunggu kelahiran bayi mengharapkan saat prosesi melahirkan bayi yang dalam kandungan di berikan kesehatan dan kelancaran saat dilahirkannya nanti juga ibu yang mengandungnya juga di berik kekuatan, kesehatan dan kelancaran dalam melahirkan bayi yg dikandung .

Salah satu cara agar bayi dalam kandungan senantiasa sehat adalah dengan menjaga kesehatan si ibu yang mengandung si bayi. Sebelum dikenal adanya dokter yang mampu memeriksa dan mengobati seorang ibu yang sedang hamil, masyarakat tradisional yang berada di Sulawesi Tengah memiliki beberapa prosesi adat diantaranya adal sebagai berikut,

Upacara selamatan pada masa hamil pertama (Nolama Tai)

Upacara nolama tai merupakan upacara selamatan kandungan pada kehamilan anak yang pertama apabila kandungan berusia 7 bulan. Upacara ini sering dinamakan No jemparaka manu (memisah-misahkan bagian daripada daging ayam) atau biasa disebut mantale (membuat sesajian). Nama-nama itu ditonjolkan sesuai dengan penonjolan dari bagian upacara ini yaitu memenggal bagian daging ayam untuk upacara sebagai sesajian utama dalam upacara Nolama Tai.

Tujuan upacara ini adalah dimaksudkan agar kelahiran sang bayi dapat berlangsung dengan selamat tanpa cacat jasmani dan rohani, serta keselamatan ibu yang akan melahirkan, dan juga agar ibu terhindar dari gangguan-gangguan rate.

Dari mantera-mantera sando (dukun) diketahui bahwa tujuan upacara ini adalah agar anak yang lahir kelak tidak tuli, kudisan, bodoh, nakal, penyakitan, dan sebagainya. Menurut kepercayaan masyarakat Kaili bahwa leluhur mereka yang disebut rate selalu mengganggu dan menjadi sebab berbagai penyakit tersebut di atas, dan bagi bayi dalam kandungan apabila upacara diabaikan.

Upacara ini dilakukan pada siang hari sebelum matahari condong ke barat. Hal ini sebagai suatu simbol bahwa bayi yang akan lahir kelak memiliki sumber kekuatan dan tenaga serta murah rezeki. Usia kandungan yang diupacarakan berkisar antara 7 sampai 9 bulan dan pantang untuk bulan ke 8 karena dianggap bulan yang kurang baik.

Penetapan waktu ditetapkan dengan seksama melalu ilmu Kotika dengan cara menghitung hari bulan di langit yang dianggap sebagai hari baik dan disepakati oleh dua belah pihak orang tua suami istri dan sando.

Upacara diselenggarakan di rumah dan tempat-tempat tertentu yang dianggap berkaitan dengan kekuatan magis religius, atau tempat yang dianggap dikuasai oleh kekuatan roh halus dan dihuni oleh rate di dalam dan di luar rumah. Di dalam rumah upacara ini dilaksanakan di beranda depan, yaitu di depan pintu rumah (tambale), sedangkan kalau di luar rumah disiapkan tempat tertentu sebagai tempat sesajian sesuai kondisi lingkungan desa bersangkutan.

upacara ini dipimpin oleh seorang dukun wanita (sando) yang dapat berkomunikasi dengan mahluk halus dan telah berusia lanjut. Tidak kurang peranannya ialah orang tua kedua belah pihak yang menyediakan korban upacara seperti kambing atau domba bagi keluarga bangsawan dan ayam bagi keluarga biasa.

Dalam upacara nolama bagi keluarga bangsawan, pertama ialah mengadakan undangan (pegaga), yaitu suatu undangan dengan jalan mengundang langsung dari rumah ke rumah jauh sebelum upacara diadakan. Bila telah tiba hari yang ditentukan, undangan-undangan dijemput kembali (neala) dari rumah ke rumah. Kegiatan ini disebut peonggotaka (suatu penghormatan dari keluarga yang berpesta) kepada orang tua adat.

Pada hari upacara diadakan penyembelihan kambing/domba yang disembelih tersebut dibakar/ di panggang di atas api (nilambu), sehingga seluruh bulu-bulunya habis terbakar. Maksudnya agar kulitnya dapat diproses menjadi bahan makanan. Sebelum dagingnya dipotong-potong hatinya diambil lebih dahulu yang biasa disebut nompesule (mengambil hati) dan langsung ditusuk dan dibakar sebagai bahan sesajian atau nilanjamaka (dijadikan sesajian).

2. prosesi Pengobatan Ibu Hamil (novero)

Upacara Novero (upacara pengobatan apabila sang ibu yang hamil kurang sehat) Upacara ini dapat juga dilaksanakan bagi ibu yang tidak hamil, namun ada perbedaan-perbedaan yang tidak berarti. Novero (mengobati penyakit) atau moragi ose (memberi warna warni beras) bertujuan untuk menyembuhkan ibu hamil dari penyakit yang dideritanya karena nilindo nuviata (diganggu mahluk halus).

Upacara ini sering dilaksanakan serentak dengan upacara nolama, yaitu bila ibu hamil kelihatannya kurang sehat. Perbedaannya ialah nolama lebih dekat kepada pemujaan arwah nenek moyang, sedangkan novero lebih berorientasi kepada mahluk-mahluk halus yang dianggap jahat.

Tempat upacara diadakan di luar rumah, di tempat yang dipercayai sebagai tempat hunian mahluk halus, seperti di tepi sungai, tepi pantai, di pohon-polion besar, dan sebagainya. Dan di sini pula dibuat suampela, sebuah tempat penyimpangan sesajian yang dibuat dari kayu bertiang tiga.

Pada bagian atas dibuat sebuah anyaman dari ranting kayu atau bambu tempat sesajian itu disimpan, dan kulili (kayu yang dibuat seperti model parang, yang diberi warna belang hitam putih). Ketiganya (suampela, kulili, dan berbagai jenis makanan) merupakan perlengkapan upacara novero tersebut termasuk ose ragi (beras yang telah diberi warna-warni) seperti disebutkan di atas.

Yang berperan dalam upacara ini ialah seorang dukun wanita sejak awal sampai dengan upacara ini selesai. Pihak-pihak lain yang terlibat terbatas dalam lingkungan keluarga terdekat saja, yang mempersiapkan perlengkapan upacara adat lainnya.

Perlengkapan-perlengkapan selain yang telah disebutkan di atas ialah membuat pekaolu nuvayo (tempat berlindungnya bayangan), maksudnya tempat roh kita berlindung bila mendapat gangguan mahluk halus. Juga perlengkapan yang disebut toge, yang dibuat semacam janur dari daun kelapa seperti bentuk tombak, kepala kuda yang berkepala dua dan berkepala sebelah dan lain-lain.

Pada bagian bawah janur tersebut bersusun 4-5 dan yang terakhir inilah yang disebut pekaolu nuvayo. Perlengkapan lainnya ialah tuvu mbuli seperti yang telah disebutkan terdahulu. Di dalam rumah disiapkan mbara-mbara (barang perhiasan/pakaian adat) yaitu vuya (sarung), baju, dan bulava (emas). Ketiganya disimpan di atas dula palangga (dulang berkaki).

3. Upacara adat ose niragi

Prosesi adat ose niragi merupakan upacara yang dilakukan bila ibu telah melahirkan dengan selamat, maka ose niragi (beras 4 warna) yang disebutkan di atas valas suji (semacam rakit kecil). Noave (mengalirkan) barang tersebut mengandung arti nompakatu (mengirimkan sesajian) tersebut kepada pue ntasi (penghuni laut) diiringi pula dengan mantera-mantera yang isinya minta segera ibu hamil yang sakit segera sembuh, dan karena penyakit sudah terbawa ke laut, pergi bersama penyakit. Dengan selesainya acara ini, selesailah upacara novero tersebut bagi seorang ibu hamil yang kurang sehat.

B. Upacara Masa Kanak-kanak pada Suku Kaili (Nosuna / khitan)


Upacara nosuna sudah menjadi adat dan tradisi di kalangan masyarakat Kaili sejak masuknya Islam hingga dewasa ini, secara turun temurun. Upacara nosuna (khitan) dilaksanakan pada anak laki-laki dan perempuan. pada upacara nosuna bagi anak laki-laki yang dilakukan menjelang anak berumur sekitar 7 sampai 8 tahun, yaitu pada anak-anak yang belum memasuki puber atau balig (nabalego).

Upacara ini dilaksanakan karena mempunyai maksud dan tujuan tertentu menurut adat dan kepercayaan masyarakat setempat, yaitu : Mentaati perintah agama (sunah Nabi) yang disebut Noinpataati Parenta Nabita (mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW).

Nompakavoe koro (mensucikan diri) .

Nompataati ada (mematuhi adat kebiasaan masyarakat agar sang anak tersebut (yang disunat) terlepas dari dosa, di samping anak itu terhindar dari berbagai penyakit (perkembangan yang tidak normal baik psikhis maupun phisik).

Upacara ini memerlukan persiapan-persiapan yang cukup selain bahan yang dibutuhkan untuk upacara juga menentukan pula adanya kesiapan waktu yang baik untuk diselenggarakannya upacara ini, karena soal waktu adalah faktor menentukan suksesnya kelangsungan hidup anak yang disunat; keadaan waktu yang tidak baik merupakan pantangan timbulnya suatu kecelakaan pada diri sang anak.

Adapun hari-hari yang baik dalam melaksanakan upacara ini menurut palakia (buku perhitungan bulan), yaitu hendaknya jatuh pada hari Senin, Minggu, dan hari Jum'at yang sedianya dilaksanakan pada siang hari jam 2 sampai jam 4, dengan alasan bahwa pada saat itu merupakan waktu yang menguntungkan untuk menuju keselamatan

upacara adat peralihan masa anak ke dewasa

ketika seorang anak meningkat dewasa, yakni sekitar umur 12 tahun ke atas, diadakan upacara Nakeso dan Naloso. Upacara ini merupakan yang sangat besar dan dibesarkan karena saat ini putra putri telah mengakhiri masa kanak-kanaknya, sehingga kepadanya diharuskan mengikuti upacara ini, dan mereka diberi nama Toniasa. Artinya, Tona nipaka asa atau orang dibuat tenang atau didewasakan.

Selama satu bulan sebelum upacara ini, Toniasa ini dikurung dalam suatu tempat tertutup dan tidak boleh keluar serta menginjak tanah. Dalam kurungan ini mereka harus melaksanakan peraturan dan disiplin yang diajarkan menurut adat, sedangkan untuk keperluan mereka seperti makan, minum dan lainnya, harus didahului dengan memukul tambur atau membunyikan seruling dari bambu.

bangunan yang digunakan untuk mengurung putra-putri tersebut adalah bangunan bertangga bambu yang disebut Songi, dan ditutup dengan mbesa sejenis kain kulit kayu yang khusus dipakai untuk upacara adat. Puncak upacara adalah setelah Toniasa mengakhiri latihan Songi, pada malam hari kuku-kuku tangan dan kaki diberi pacar, sementara selama pemberian pacar berlangsung diperdengarkan lagu Rano yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan oleh orang-orang tua dengan iringan bunyi-bunyian.

Pagi harinya, toniasa digendong ke sungai untuk dimandikan dan selanjutnya diberi pakaian adat seperti halnya orang dewasa. Selanjutnya dilakukan upacara Nakeso, yakni menggosok gigi atau pemotongan gigi dengan menggunakan bebatuan khusus dan disaksikan banyak orang. "Biasanya, nakeso itu dilakukan di bantaya atau Baruga (balai pertemuan adat) yang dilakukan oleh kepala adat,"

Selanjutnya toniasa diturunkan dan diarak mengelilingi balai adat atau bantaya yang sudah dihiasi daun kelapa dan bambu kuning. Upacara ini disebut Naloso. Terakhir kepala Toniasa yang tertua diharuskan menombak kerbau yang diikuti oleh mereka yang menjalani upacara ini sampai kerbau tersebut mati. Kemudian kepala kerbau diambil dan diletakkan di depan balai adat, dan Toniasa duduk di atas kepala kerbau didampingi Toniasa yang lain, putra maupun putri.

"Saat itulah, putra-putra itu pun dilantik dan dinyatakan sudah menjadi orang dewasa. Apabila mereka melanggar adat, maka kepalanya sebagai pengganti kepala kerbau "

Upacara adat pernikahan


Pernikahan merupakan peristiwa penting bagi manusia, dirasa perlu disakralkan dan dikenang sehingga perlu ada upacaranya. Ada beberapa prosesi adat tradisi yang biasa di lakukan oleh masyarakat sulawesi tengah diantaranya adalah prosesi nopasoa(orang yang akan mandi uap), prosesi Nokolontigi (malam pacar), prosesi Mematua(kunjungan pengantin kepada mertua,dll berikut penjelasan prosesi adat yang dilaksanakan sebelum melanjut ke upacara adat perkawinan :

A. prosesi Nokolontigi (malam pacar)

Nokolontigi dilaksanakan pada malam hari dirumah calon pengantin perempuan, yang biasanya dilaksanakan sehari sebelum upacara akad nikah. Dengan Tujuan untuk Memeberikan kekuatan kepada kedua calon pengantin agar tidak mudah dipengaruhi oleh setan atau roh-roh jahat. Juga Memberikan makna dan arti sebagai simboli bagi keduanya tentang ancaman bilamana terjadi perceraian. Serta Agar kedua calon pengantin dapat panjang umur, murah rezeki, hati tenang, pikiran tajam, dan banyak anak.

Adapun alat-alat kelengkapan yang digunakan pada prosesi nokolontigi antara lain :
  1. Daun pacar (kolontigi) yang sudah ditumbuk halus yang dapat meberi warna merah pada telapak tangan, kaki, atau kuku calon pengantin.
  2. Sebuah baki dengan beberapa mangkok kecil berisi minyak kelapa, kapur sirih, bedak, dan kain putih untuk membersihkan tangan.
  3. Daun siranindi, atau daun pendingin dan sebuah bantal yang beralaskan daun pisang.
Bagi masyarakat sulteng bahwa Setiap perlengkapan yang di pakai pada prosesi adat ini memiliki makna dan simbol yang dapat diartikan sebagai :
  • Daun pacar adalah lambang darah (pengorbanan bila mana bercerai)
  • Minyak kelapa digosok di kepala, simbol bahwa kepala itu dipotong bilamana berkhianat.
  • Kapur sirih dan Bedak sebagai lambang batang leher yang akan disembelih.
  • Kain putih adalah lambang dari kain kafan (mayat).
Ada beberapa prosesi yang harus dilakukan sesuai dengan kenyakinan dan adat istiadat yang dilakukan secara turun temurun diantaranya sebagai berikut :
  1. Minta kesediaan kepada 5 orang, 7 orang atau 9 orang yang ditua kan dan hadir pada saat upacara Nokolontigi berlangsung. Biasanya orang tua yang terpilih adalah biasanya orang tua yang memiliki status sosial ditengah masyarakat, orang yang murah rezeki, memiliki anak dan cucu, serta berhasil dalam membina rumah tangganya. Penetapan 5 orang, 7 orang atau 9 orang terkait dengan status sosial calon pengantin.
  2. Orang tua yang sudah ditetapkan jumlahnya dan mendapat kepercayaan itu meletakkan Kolontigi ( daun pacar yang sudah dihaluskan) sambil menggosok ditelapak tangan calon pengantin secara bergilir, sebagai simbol untuk memberi warna merah disekitar tangan. Orang ketujuh atau kesembilan yang mendapat kesempatan terakhir menutup pemberian Kolontigi dengan cara mengangkat dan memutar-mutar lilin disekitar muka dan kepala calon pengantin dan setelah itu menghambur beras kuning kesekujur tubuh calon pengantin.
  3. Bagi calon pengantin laki-laki yang turut serta dalam acara Nokolontigi di rumah calon pengantin perempuan diteruskan dengan cara Nepadupa artinya suatu penghargaan terhadap calon pengantin laki-laki ditandai dengan pemberian sarung (buya sabe) yang telah dipersiapkan oleh keluarga calon pengantin perempuan untuk dipakai pengantin laki-laki pada upacara itu.
  4. Kemudian dilanjutkan dengan makanan jajan tradisional sekedarnya sebagai tanda ucapan syukur atas berlangsungnya upacara tersebut. Akhir dari upacara ini juga memaknai bahwa antara kedua calon pengantin itu telah terikat oleh ikatan batin. Setelah itu calon pengantin laki-laki diantar pulang kerumahnya.
B.  prosesi Mematua(Kunjungan pengantin kerumah mertua)

Mematua adalah kunjungan pengantin perempuan kerumah mertuanya. Tujuan upacara ini ialah memberi penghargaan dan penghormatan kepada mertuannya. Sebagai pertanda sudah adanya hubungan kekeluargaan dan sebagai balasan anak laki-lakinya yang sudah menjadi keluarga pihak wanita.

Dengan cara ini maka secara resmi pengantin melaporkan diri pada pihak keluarga suaminya sudah menjadi anggota dari keluarga dari keluarga pihak suaminya. Juga dengan uapacara ini menghilangkan rasa keengganan, kekakuan pengantin perempuan dalam penyesuaian diri dalam lingkungan keluarga suaminya khususnya hubungan dengan mertuanya.

Upacara mematua ini dilaksanakan dirumah pengantin laki-laki dengan sajian kecil-kecilan, dimana dihadiri oleh seluruh kerabat dekat pihak laki-laki serta tua-tua adat. Biasanya pula sang suami berkewajiban mengantar sang istri mengunjugi rumah sanak keluarganya satu persatu untuk memperkenalkan diri secara lebih dekat.

Waktu pelaksanaan ini biasanya 5 sampai 7 hari sesudah pesta perkawinan, dan kadang-kadang tergantung dari situasi setelah pesta selesai. Dalam mematua ini kedua sang pengantin biasanya bermalam satu malam, kemudian kembali kerumah pengantin perempuan. Mengenai jalannya upacara adalah sebagai berikut :
  1. Setelah waktu mematua ditentukan dan diberitahukan kepada mertua (orang tua laki-laki), maka pengantin baru diantar oleh orang tua perempuan dan beberapa orang keluarga dekat kerumah mertua laki-laki.
  2. Setibanya anak mantu dirumah, diadakan acara niingga yaitu pemasangan sejenis gelang yang terbuat dari manik-manik (botiga) yang dilakukan oleh orang tua perempuan laki-laki (mertua perempuan) kepada anak mantunya itu. Acara ini memberikan arti simbol bahwa anak mantunya resmi sebagai anggota keluarga pihak suaminya.
  3. Disamping acara niingga tersebut juga oleh mertuanya memberikan kepada anak mantunya sebuah kalung emas dan cincin emas yang langsung dipasangkan sendiri kepada leher dan jari manis anak mantunya itu. Pemberian ini sebagai manifestasi kasih sayang dan kegembiraan menyambut kedatangan anak mantunya yang baru.
  4. Selanjutnya diadakan makan bersama sekedarnya meliputi suasana santai, penuh dengan rasa kekeluargaan yang akrab. Dengan selesainya upacara tersebut maka selesai semua upacara-upacara dalam rangkaian perkawinan itu.

Demikian penjelasan lengkap mengenai nama macam-macam contoh “Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Sulawesi Tengah” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya


0 Response to "Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Sulawesi Tengah"

Post a Comment

silahkan berkomentar dengan sopan