-->

Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Kalimantan Barat

Upacara adat suku dayak kalimantan barat

Upacara-Adat-Istiadat-dan-Sistem-Kepercayaan-Kalimantan-Barat

-Upacara adat Kalimantan Barat-Poateedby-BukanTrik- Mayoritas penduduk Kalimantan Barat memeluk agama Islam , Katolik , Protestan , Buddha , Hindu , lain-lain . Kalimantan Barat Laut (Afdeeling Singkawang dan Afdeeling Pontianak, tidak termasuk afdeeling Ketapang dan afdeeling Sintang) terdiri atas: suku Dayak , etnis Melayu , etnis Banjar , etnis Bugis, etnis Jawa, dan suku lainnya sedangkan Suku bangsa yang mendominasi seluruh Kalbar adalah suku Dayak (40,4%), suku Melayu (27,7%), bumiputera lainnya (18,3%) dan Tionghoa

Adat istiadat merupakan aturan tingkah laku yang dianut secara turun temurun dan berlaku sejak lama. Adat istiadat termasuk aturan yang sifatnya ketat dan mengikat. yang diakui dan ditaati oleh masyarakat sejak beradab-abad yang lalu dapat menjadi hukum yang tidak tertulis yang disebut sebagai hukum adat. hukum adat di indonesia adalah hukum yang tidak tertulis yang berlaku bagi sebagian besar penduduk indonesia.

Provinsi kalimantan barat seperti daerah lain dikalimantan terdapat beberapa ritual yang diyakini sebagai prosesi adat yang dilakukan secara turun temurun oleh para leluhur suku dayak dan suku melayu yang ada di kalbar diantaranya berikut penjelasan nya

Upacara Naik Dango


Prosesi adat Naik Dango atau Gawai Dayak merupakan merupakan sebuah upacara untuk menghaturkan rasa syukur terhadap Nek Jubata atau Sang Pencipta atas berkah yang diberikannya berupa hasil panen (padi) yang berlimpah yang dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat dayak kalimantan Barat ( Dayak Kanayatan) .

Upacara ini rutin dilaksanakan setiap tahun setelah masa panen . Upacara adat syukuran setelah panen ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak dengan nama berbeda-beda. Orang Dayak Hulu menyebutnya dengan Gawai, di Kabupaten Sambas dan Bengkayang disebut Maka‘ Dio, sedangkan orang Dayak Kayaan, di Kampung Mendalam, Kabupaten Putus Sibau menyebutnya dengan Dange.

prosesei Upacara adat Naik Dango biasanya diawali dengan menyimpan seikat padi yang baru selesai di panen di dalam dango (lumbung padi) oleh setiap kepala keluarga masyarakat Dayak yang bertani/ berladang. Padi yang disimpan di dalam Dango nantinya akan dijadikan bibit padi untuk ditanam bersama-sama dan sisanya menjadi cadangan pangan untuk masa-masa paceklik.

Selanjutnya, menimang padi dan diikuti dengan pemberkatan padi oleh ketua adat. Gawai Dayak Naik Dango merupakan upacara adat yang mempunyai makna syukuran atau berterima kasih kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh dari sawah atau ladang masyarakat dayak, upacara ini dilakukan setiap tahunnya.

Dango sendiri mempunyai arti yaitu pengambilan padi untuk pertama kalinya dari lumbung yang berada di dekat rumah dan harus dilakukan dengan upacara Naik Dango. Upacara ini berisikan doa dari seorang pemimipin adat kepada lumbung padi, pelaku adat ini mendoakan kepada penyelenggara pesta Naik Dango ini yang dilakukan pagi hari.

Upacara naik dango dilaksanakan melalui 4 kegiatan yaitu persiapan batutuk,matik,nyangahtn dan makan bersama.

Batutuk adalah kegiatan menumbuk pada di dalam lesung untuk memperoleh beras, dan yang ditumbuk didalam lesung tidak selamanya beras bisa saja tepung atau beras ketan (po) yang digunakan untuk persiapan makanan dan sesajian.

Upacara Naik Dango merupakan acara yang memiliki 3 aspek pokok yaitu aspek kehidupan agraris, aspek religius dan aspek kehidupan kekeluargaan solidaritas serta persatuan. Aspek kehidupan agraris yaitu kehidupan masyarakat yang bertradisi bercocok tanam,

kemudian aspek religius merupakan aspek untuk berterima kasih kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh dan yang terakhir adalah aspek kehidupan kekelaurgaan solidaritas dan persatuan yang merupakan aspek menjunjung tinggi kekeluargaan antar keluarga terdekat dalam ruma masing-masing tiap tahunnya.

Pelaksanaan Upacara Naik Dango

Dalam tradisi nenek moyang Dayak Kanayatn, Naik Dango diawali dengan pertemuan antar penduduk di kampong sehabis panen untuk merencanakan pelaksanaan Naik Dango terlebih dahulu. Pertemuan dilaksanakan beberapa hari sebelum pelaksanaan ritual itu diselenggarakan.

Setelah diputuskan hari pelaksanaan, setiap keluarga di kampong sehari sebelumnya memasak beberapa makanan, sebagai simbol hasil dari kebudayaan agraris masyarakat, antara lain beras ketan dimasak di dalam buluh (bambu berukuran besar), dan tumpi (semacam roti cucur). Selain itu, nasi yang dibungkus dalam daun layang.

Kemudian, harus disediakan pula ayam yang masih hidup.Bahan-bahan itu dibawa ke dango bersama dengan padi hasil panen. Dalam dango dilaksanakan upacara Nyangahatn atau disebut juga Barema. Di situlah, doa-doa pun teruntai kepada Sang Pencipta atau Nek Jubata.

Setelah ritual selesai, semua keluarga yang ada di kampong makan bersama di rumah salah satu penduduk yang biasanya ketua tani setempat. Setiap keluarga membawa menu makanan masing-masing, kemudian saling mencoba masakan satu dengan yang lainnya.

Dalam perkembangannya, ritual Naik Dango yang dulunya hanya diselenggarakan di kampong, sekarang diikuti perwakilan dari Kabupaten Landak, Mempawah, dan Kubu Raya. Jumlahnya ada puluhan kelompok perwakilan beranggotakan ratusan orang. Di ketiga kabupaten itulah yang dianggap menjadi persebaran masyarakat Dayak Kanayatn.

Mereka yang hadir dan membawa hasil panen serta sejumlah perlengkapan untuk ritual itu disebut kontingen (pangoyokng) dari kabupaten. Kini penari yang mengantarkan padi ke dango pun menggunakan pakaian khas Dayak, yang ada unsur kreatifitas terutama dari anak-anak muda. Corak pakaian lebih beragam kreativitasnya. Bahkan, pakaian ada yang dikolaborasikan dengan perhiasan bernuansa modern, sehingga generasi muda juga mempertahankan budaya itu, tanpa menghilangkan jati diri kebudayaan aslinya.

Tak hanya itu, di dalam rangkaian ritual Naik Dango pun saat ini diselingi dengan perlombaan tradisional, antara lain pangka’ gasing, menumbak, dan menyumpit. Selain itu, ada perlombaan nyanyi lagu-lagu tradisional serta pemilihan Dara Cega’ Bujakng Tarigas, artinya dara yang cantik dan pria yang tampan, semacam putri dan putra dalam kontes adat yang diikuti kalangan muda Dayak.

Demikian penjelasan lengkap mengenai nama macam macam contoh “Upacara Adat Istiadat dan Kepercayaan Suku Dayak Kalimantan Barat” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya


0 Response to "Upacara Adat Istiadat dan Sistem Kepercayaan Kalimantan Barat"

Post a Comment

silahkan berkomentar dengan sopan