-->

Upacara Adat Istiadat dan Kepercayaan Suku Jawa Yogyakarta

Upacara adat istiadat dan kepercayaan yogyakarta

Upacara-Adat-Istiadat-dan-Kepercayaan-Suku-Jawa-Yogyakarta

-Upacara Adat DI Yogyakarta-Postedby-BukanTrik-, Daerah istimewa yogyakarta termasuk wilayah yang masih memegang teguh adat istiadat budaya kejawen yaitu Pengaruh kepercayaan animisme, Hindu dan Budha yang masih sangat kental itu yang terlihat dalam segi bentuk dan tata ruang seperti pada rumah adat Joglo contohnya: Dalam rumah adat Joglo, umumnya sebelum memasuki ruang induk kita akan melewati sebuah pintu yang memiliki hiasan sulur gelung atau makara. Hiasan ini ditujukan untuk tolak balak, menolak maksud – maksud jahat dari luar hal ini masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme

Pengaruh Agama Islam yang berbaur dengan kepercayaan animisme, agama Hindu dan Budha masih mengakar kuat dan itu sangat berpengaruh dalam adat istiadat dan upacara adat yang menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat jogyakarta

Agama islam berkembang baik di pulau jawa hal ini tampak dari banyaknya bangunan –bangunan tempat ibadat agama ini. Agama islam adalah agama mayoritas masyarakat jawa. Selain itu ada juga penganut agama katolik dan kristen protestan, hindu, budha dan aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Kebanyakan orang jawa percaya bahwa hidup manusia ini sudah diatur dalam alam semesta. Sehingga tidak sedikit dari mereka bersikap nrimo, yaitu menyerahkan diri pada takdir. Selain itu orang jawa percaya kepada kekuatan atau kesakten (kesaktian) yang terdapat pada benda-benda pusaka seperti keris, gamelan, dan lain-lain

Mereka juga mempercayai keberadaan arwah atau roh leluhur dan makhluk-makhluk halus seperti memedi, lelembut, tuyul, demit, serta jin yang menempati alam sekitar tempat tinggal mereka, menurut kepercayaan, makhluk tersebut dapat endapatkan kesuksesan, kebahagian, ketentraman atau keselamatan, tetapi sebaliknya ada juga mahluk halus yang dapat menimbulkan ketakutan atau kematian

Selamatan merupakan acara makan bersama atas makanan tang telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan, sesuai dengan peristiwa atau kejadian dalam kehidupan sehari-hari upacara selamatan dapat digolongkan kedalam 4 macam seperti berikut
  • Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang, jenis selamatan ini meliputi hamil tujuh bulan, kelahiran, potong rambut pertama, menyentuh tanah untuk pertama kali, menusuk telinga, sunat, kematian, [eingatan, serta saat-saat kematian
  • Selamatan yang bertalian dengan bersih desa, jenis selamatan ini meliputi upacara sebelum penggarapan tanah pertanian dan setelah panan padi
  • Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar islam
  • Selamatan yang berkaitan dengan peristiwa khusus, jenis selamatan ini meliputi perjalanan jauh, menempati rumah baru, menolak bahaya (ngruwat) janji kalau sembuh dari sakit (kaul) dan lain-lain

Seperti Masyarakat Jawa Timur, dan Jawa Tengah, masyarakat yogyakarta pun memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan pun memiliki kesamaan dan kemiripan antara lain: tingkepanbabaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan. (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama),

Upacara Sebelum Perkawinan


Prosesi pingitan

bagi masyarakat Yogyakarta, persiapan yang dilakukan sebelum perkawinan yaitu sekitar empat puluh hari sebelum perkawinan, calon mempelai wanita telah dipingit/disengker, artinya ia tidak diperkenenkan ke luar rumah, apa lagi bertemu dengan calon suaminya. Selama itu pula ia diharuskan berpuasa (pati broto. jawa) dengan megnurangi segala macam makanan yang mengandung lemak, minum jamu (obat) dan juga seluruh badannya dibarut dengan ramuan yang disebut mangir untuk menghaluskan kulit dan lulur untuk membuat kulit menjadi kuning.

Prosesi tratag

pemasangan tarub balai di depan rumah keluarga gadis (tratag jawa) yang akan digunakan untuk melangsungkan upacara perkawinan. Bagian yang disebut tratag ini, dihias dengan daun kelapa yang muda, yang disebut janur. Kemudian di sebelah kanan-kiri pintu masuk ruangan perjamuan, dipasang jenis-jenis tumbuhan yang terdiri dari pohon pisang yang sedang berbuah (pisang raja), tebu, kelapa gading muda (cengkir), padi dan daun kelapa yang muda (janur. Hiasan ini disebut dengan istilah tuwuhan. yang melambangkan kemakmuran tanaman maupun harapan kemakmuran bagi calon keluarga yang baru. Hal ini mengingat, bahwa antara pengantin dan tanaman sangat erat hubungannya dengan adat kepercayaan Jawa

prosesi siraman

Upacara siraman (mandi) diadakan sebelum upacara midodareni, yaitu upacara yang diadakan pada malam hari sebelum upacara perkawinan. Upacara siraman ini dilakukan oleh baik pengantin perempuan maupun pengantin laki-laki di rumah mereka masing-masing.

Untuk melakukan upacara siraman ini, sengaja dipilih orang-orang tua dari keluarga terdekat calon pengantin yang mempunyai anak banyak dengan maksud agar merestui pada caon pengantin dengan harapan mudah-mudahan lekas mempunyai anak. Di samping itu juga upacara siraman ini bertujuan untuk mensucikan kedua calon mempelai sebelum memasuki malam midodareni, malam yang dianggap sakral.

Prosesi midodareni

pada malam harinya diadakan upacara yang disebut Midodareni. Midodareni ini diadakan pada malam hari sebelum upacara pernikahan dilangsungkan. Menurut anggapan malam midodareni ini dipandang sebagai malam yang paling suci (sacral). Sebab pada saat ini pengantin perempuan didatangi para widodareni (bidadari).

Midodareni merupakan puncak daripada upacara sakral dari serangkaian upacara perkawinan, dan dalam upacara midodareni ini nampak pula sifat ritusnya. Di sini dapat dilihat sifat ritusnya yaitu pada saat itu (malam midodareni), calon mempelai perempuan dengan berpakaian sederhana didudukkan di muka senthong tengah.

Di dalam masyarakat Jawa dan khususnya Yogyakarta yang sebagian besar penduduknya adalah terdiri dari petani, maka senthong tengah ini mempunyai arti magis dan sakral. Anggapan sakral ini adalah berhubungan dengan mata pencarian hidup mereka yang sebagian besar adalah sebagai petani.

Menurut anggapan mereka pula, senthong tengah ini merupakan tempat istirahat yang disediakan untuk menghormat Dewi Padi atau Dewi Rumah-angga yaitu Desi Sri (=mBok Sri). Oleh sebab itu, senthong tengah ini kadang-kadang disebut pula petanen atau pendaringan yang maksudnya tempat istirahat Dewi Sri. yang kemudian akan diharapakan menjadi seorang yang pandai mengatur rumah tangga.

Di samping itu, sifat ritus daripada malam midodareni itu dapat pula dilihat dari adanya kelengkapan syarat-syarat upacara pengantin antara lain:
  1. Kembar mayang yang diambil dari pembuatnya (biasanya tukang rias manten atau dukun manten), sebanyak dua buah yang sama bentuknya.
  2. Sirih yang diberi hiasan titik-titik dengan kapur (injet, Jawa).
  3. Cengkir, kelapa yang sangat muda dan bunga setaman.

UPACARA Prosesi Perkawinan


Prosesi temu atau panggih

Sebagai upacara puncak dari serangkaian upacara perkawinan yaitu pelaksanaan perkawinan. Bagi penduduk di Jawa, khususnya di Yogyakarta mengenalnya dengan istilah “temu”atau panggih atau kepanggihan. Upacara temu atau panggih yaitu upacara saat bertemunya pengantin laki-laki dengan pengantin perempun, diselenggarakan di tempat keluarga pengantin perempuan.

Upacara ini diselenggarakan sesudah upacara pernikahan, yang Adapun urut-urutan upacara temu ini, dapat dituturkan sebagai berikut: sebelum pengantin laki-laki datang, oleh pihak mempelai wanita diberikan beberapa pakaian dan perlengkapnnya untuk dipakai pada waktu upacara temu atau penggih. Pakaian yang dimaksud itu yaitu kain yang bercorak Sidomukti yang juga dipakai atau digunakan oleh mempelai wanita. Kain kembar ini disebut dengan istilah sawitan.

Pakaian ini dilengkapi dengan bunga untuk perhiasan keris yang dikenakan mempelai laki-laki. Bunga perhiasan keris ini disebut gombyok, juga bunga melati untuk kalung dan hiasan telinga. Perlengkapan yang lain ialah sirih yang telah digulung dan diikat dengan benar yang disebut gantal. Semua perlengkapan ini dibuat oleh dukun manten.

prosesi lempar sadak/ gantalan

Sesudah semuanya selesai dipersiapkan, maka pada saat yang telah ditentukan, datanglah mempelai laki-laki diiringi oleh anggota kerabatnya ke tempat upacara. Setibanya di pintu gerbang upacara, diadakan upacara pertukaran kembar-mayang yang dilakukan oleh patah, yaitu gadis dan perjaka yang mengiringi mempelai. Seterusnya upacara temu ini dalakukan dengan saling melempar sadak/gantalan.

Upacara ini dimasudkan atau melambangkan hidup kedua suami-istri yang selanjutnya akan saling memberi dan menerima dengan setulus hati. Di samping itu pula, ada anggapan bahwa, sirih dianggap sebagai lambang pertemuan rasa antara suami dan istri.

Prosesi injak telur

Kemudian upacara dilanjutkan dengan acara menginjak telur yang ditempatkan pada sebuah cobek. Adapun yang harus menginjak telur adalah mempelai laki-laki. Kaki pengantin laki-laki yang kotor karena kena pecahan telur itu, dibersihkan oleh mempelai perempuan dengan menggunakan air bunga setaman yang telah disediakan dengan gayung tempurung kelapa (= siwur, Jawa).

UPACARA SESUDAH KAWIN


Penduduk di Jawa dan khususnya di Yogyakarta, mengenal adanya beberapa pantangan yang harus dilakukan oleh kedua mempelai, yaitu selama lebih kurang empat puluh hari keduanya tidak boleh bercampur. Mereka diperkenankan tidur bersama-sama, tetapi harus ada anggota keluarga pengantin wanita yang menunggunya.

Di bawah tempat tidur mereka diletakkan beberapa sajian yang terdiri dari nasi, sayur, dan ayam serta bahan-bahan rujak, yatiu nenas, tebu, cengkir gading. Akan tetapi adat seperti ini, pada jaman sekarang sudah tidak ada lagi. Yang kita lihat hanyalah pengantin laki-laki tinggal untuk selama lima hari (sepasar, jawa) atau tiga puluh lima hari (selapanan, Jawa) di rumah mertuanya.

Setelah selama lima atau tiga puluh lima hari, kedua mempelai itu tinggal pada keluarga mempelai wanita, maka oleh orang tua pihak pengantin laki-laki kedua mempelai diminta untuk dibawa ke rumahnya. Peristiwa ini disebut dengan istilah ngunduh manten atau disebut ngundun manten. Upacara ini disertai dengan syarat-syarat sebagai berikut:
  1. Mempelai berdua dijemput oleh kerabat mempelai laki-laki dengan membawa sanggan yang terdiri dari gedhang raja tahun (jumlahnya genap), kembang telon, dan jajan pasar.
  2. Untuk pelaksanaannya disesuaikan dengan hari yang sudah ditentukan sesudah lima atau tiga puluh lima hari upacara temu.
Sementara itu, bersamaan dengan upacara ngunduh manten, diadakan pula upacara pemberian nama baru untuk kedua mempelai. Biasanya nama yang diberikan diambilkan dari nama orang tua mempelai laki-laki dan nama orang tua mempelai wanita. Pemberian nama ini melambangkan telah terbentuknya suatu kesatuan batin antara suami dan istri. Setalah kawin mereka adalah menjadi “satu”. Dengan terbentuknya yagn “satu” ini , timbul istilah yang dikenal orang Jawa yang disebut garwa, yang maksudnya sigaran ing nyawa ( mereka masing-masing adalah bagian dari nyawa yang satu).

Upacara adat kelahiran


Ada beberapa adat istiadat yang biasa dilakukan oleh masyarakat jawa tengah terutama yang terdapat pada seseorang yang sudah berumah tangga. Seorang ibu yang menginginkan seorang anak, akan tetapi belum juga dikasih maka seorang ibu tersebut mengadakan yang dinamakan mupu,

Prosesi mupu.

mupu yaitu memungut anak. Tujuannya agar menyebabkan hamilnya seorang ibu yang memungut anak. Pada saat ibu hamil, jika wajahnya terlihat tidak bersih dan tidak tampak cantik seperti biasanya, maka dapat disimpulkan bahwa anaknya adalah laki-laki, akan tetapi, jika ibu wajahnya tampak bersih dan tampak cantik maka dapat disimpulkan bahwa anaknya perempuan.

Prosesi mitoni

Ketika seorang ibu hamil memasuki kehamilannya yang 7 bulan, maka akan diadakan acara tujuh bulanan atau mitoni. Tujuannya yaitu agar seorang calon bayi dan calon ibu sehat dan lancar dalam persalinan nanti. Pada tujuh bulanan ada beberapa ritual yang dilakukan, salah satunya yaitu calon ibu di mandikan dengan air yang diambil dari tujuh sumber yang berbeda dan juga ditambahkan bunga tujuh macam agar wangi. Ada juga masyarakat yang hanya merayakan tujuh bulanan ini dengan acara selamatan khataman quran. Karena simpel tidak terlalu ribet. Pada tujuh bulanan ini pasa masa sekarang tidak hanya dilakukan pasa suku jawa, akan tetapi ada suku lain juga yang mengikuti adat suku jawa ini.

Prosesi brokohan

Pada saat seorang bayi itu lahir, maka akan diadakan selametan, biasanya sering juga disebut dengan brokohan. Pada saat brokohan dilakukan, maka disediakan nasi tumpeng lengkap dengan sayur dan lauk pauknya.

Prosesi selapanan

Pada saat seorang bayi berusia 35 hari, maka diadakan acara selametan selapanan, pada acara selapanan, rambut seorang bayi akan dipotong habis. Tujuannya agar rambut bayi tersebut akan tumbuh lebat.

Prosesi tedak siten

tedak-siten merupakan Adat tradisi yang dilakukan ketika seorang bayi beusia 8 atau 9 bulan. Adat seperti ini yaitu dimana seorang bayi untuk pertama kalinya menginjak kakinya ke atas tanah. Dalam pelaksanaan tedak siten ini orang tua harus membantu dengan menuntun sang anak untuk berjalan diatas cobekan yang didalamnya berisi sesaji makanan sejenis dodol yang terbuat dari bahan beras ketan berwarna putih dan merah serta beras kuning. Setelah itu sang anak diturunkan ke atas tanah dengan dibimbing oleh orang tuanya. Kemudian ibu dan sang anak masuk di dalam kurungan anak, didalam kurungan tersebut tersedia berbagai mainan yang bisa dipilih oleh sang anak.

Prosesi khitanan atau ditetaki

Ketika menjelang remaja, tiba waktunya seorang anak ditetaki atau dikhitan. Adat istiadat tersebut selalu dilakukan oleh masyarakat suku jawa. Tradisi ini masih selalu dilakukan oleh suku jawa setiap pertumbuhan sang bayi, sejak lahir yang selalu diadakan acara-acara yang sudah menjadi tradisi suku jawa sampai seorang anak tersebut memasuki tetaki atau khitan.

E. Upacara adat kematian


Diantara jenis-jenis selamatan tersebut, selamatan yang berhubungan dengan kematian sangat diperhatikan dan selalu dilakukan. Hal ini dilakukan untu menghirmati arwah orang yang meninggal, jenis selamatan untuk menolong arwah orang dialam baka ini berupa
  • Surtanah atau geblak yaitu upacara berupa mendoakan saat meninggalnya seseorang
  • Nelung dina yaitu upacara atau selamata atau doa yang diakuakn pada hari ke 3 sesudah meninggalnya seseorang
  • Mitung dina yaitu upacara atau selamatan atau doa yang dilakukan pada hari ke 7 sesudah meninggalnya seseorang
  • Matang puluh dina yaitu upacara atau selamatan atau doa yang dilakukan pada hari ke 40 sesudah meninggalmya seseorang
  • Nyatus yaitu upacara atau selamatan atau doa yang di lakukan pada hari ke 100 sesudah meninggalnya seseorang
  • Mendak sapisan yaitu upacara atau selamatan dan doa yang dilakukan pada 1 tahun nya sesudah meninggalnya seseorang
  • Mendak pindo yaitu upacara atau selamatan dan doa yang dilakukan pada hari genap 1000 hari meninggalnya seseorang , selamatan ini juga kadang-kadang disebut juga nguwis-nguwisi artinya yang terakhir kali

Selain selamatan dan upacara adat, masyarakat jawa juga mengenal dengan upacara sesajeb, upacara ini berkaitan dengan kepercayaan terhadap makhluk halus, sesajen diletakkan ditempat-tempat ttertentu seperti di bawah kolong jembatan di bawah tiang rumah dan ditempat tempat yang dianggap keramat.

Bahan sesajen berupa ramuantiga jenis binga (kembang telon), kemenyan, uang receh, dan kue apem, bahan tersebut ditaruh didalam besek kecil atau bungkusan daun pisang, sesajen tersebut ada yang dibuat pada setiap malam selasa kliwon dan jum’at kliwon.

F. UPACARA ADAT RITUAL TRADISI/ KENDUREN


Kenduren/ selametan adalah tradisi yang sudah turun temurun dari jaman dulu, yaitu doa bersama yang di hadiri para tetangga dan di pimpin oleh pemuka adat atau yang di tuakan di setiap lingkungan, dan yang di sajikan berupa Tumpeng, lengkap dengan lauk pauknya. Tumpeng dan lauknya nantinya di bagikan kepada yang hadir yang di sebut Carikan ada juga yang menyebut dengan Berkat.Tujuan dari kenduren itu adalah meminta keselamat buat yang di doakan, dan keluarganya,kenduren itu bermacam macam jenisnya, antara lain :

kenduren wetonan ( wedalan ) Di namakan wetonan karena tujuannya untuk selametan pada hari lahir ( weton, jawa ) seseorang. Dan di lakukan oleh hampir setiap warga, biasanya 1 keluarga 1 weton yang di rayain , yaitu yang paling tua atau di tuakan dalam keluarga tersebut. Kenduren ini di lakukan secara rutinitas setiap selapan hari ( 1 bulan ). Biasanya menu sajiannya hanya berupa tumpeng dan lauk seperti sayur, lalapan, tempe goreng, thepleng, dan srundeng. tidak ada ingkung nya ( ayam panggang ).

Kenduren Sabanan ( Munggahan )

Kenduren ini menurut cerita tujuannya untuk menaik kan para leluhur. Di lakukan pada bulan Sya’ban, dan hampir oleh seluruh masyarakat di Watulawang dan sekitarnya, khususnya yang adatnya masih sama, seperti desa peniron, kajoran, dan sekitarnya. Siang hari sebelum di laksanakan upacara ini, biasanya di lakukan ritual nyekar, atau tilik bahasa watulawangnya, yaitu mendatangi makan leluhur, untuk mendoakan arwahnya,

biasanya yang di bawa adalah kembang, menyan dan empos ( terbuat dari mancung ). Tradisi bakar kemenyan memang masih di percaya oleh masyarakat watulawang, sebelum mulai kenduren ini pun, terlebih dahulu di di jampi jampi in dan di bakar kemenyan di depan pintu. Menu sajian dalam kenduren sabanan ini sedikit berbeda dengan kenduren Wedalan, yaitu disini wajib memakai ayam pangang ( ingkung ).

Kenduren Likuran

Kenduren ini di laksanakan pada tanggal 21 bulan pasa ( ramadan ), yang di maksudkan untuk memperingati Nuzulul Qur’an. dalam kenduren ini biasanya di lakukan dalam lingkup 1 RT, dan bertempat di ketua adat, atau sesepuh di setiap RT. dalam kenduren ini, warga yang datang membawa makanan dari rumah masing2, tidak ada tumpeng, menu sajiannya nasi putih, lodeh ( biasanya lodeh klewek) atau bihun, rempeyek kacang, daging, dan lalapan.

Kenduren Badan ( Lebaran )/ mudunan

Kenduren ini di laksanakan pada hari Raya Idul Fitri, pada tanggal 1 sawal ( aboge ). kenduren ini sama seperti kenduren Likuran,hanya tujuannya yang berbeda yaitu untuk menurunkan leluhur. TYang membedakan hanya, sebelum kenduren Badan, biasanya di dahului dengan nyekar ke makam luhur dari masing2 keluarga.

Kenduren Ujar/tujuan tertentu

Kenduren ini di lakukan oleh keluarga tertentu yang punya maksud atau tujuan tertentu, atau yang punya ujar/ omong. Sebelum kenduren ini biasanya di awali dengan ritual Nyekar terlebih dahulu. dan menu wajibnya, harus ada ingkung ( ayam panggang ). Kenduren ini biasanya banyak di lakukan pada bulan Suro ( muharram ).

Kenduren Muludan

Kenduren ini di lakukan pada tanggal 12 bulan mulud, sama seperti kenduren likuran, di lakukan di tempat sesepuh, dan membawa makanan dari rumah masing- masing. biasanya dalam kenduren ini ada ritual mbeleh wedus ( motong kambing ) yang kemudian di masak sebagai becek dalam bahasa watulawang ( gulai ).

Upacara grebegan

Upacara Garebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal dua belas bulan Mulud (bulan ketiga), tanggal satu bulan Sawal (bulan kesepuluh) dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan kedua belas). Pada hari hari tersebut raja mengeluarkan sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan. Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden/gunungan yang terdiri dari gunungan kakung dan gunungan estri (lelaki dan perempuan).

Gunungan kakung berbentuk seperti kerucut terpancung dengan ujung sebelah atas agak membulat. Sebagian besar gunungan ini terdiri dari sayuran kacang panjang yang berwarna hijau yang dirangkaikan dengan cabai merah, telur itik, dan beberapa perlengkapan makanan kering lainnya. Di sisi kanan dan kirinya dipasangi rangkaian bendera Indonesia dalam ukuran kecil. Gunungan estri berbentuk seperti keranjang bunga yang penuh dengan rangkaian bunga. Sebagian besar disusun dari makanan kering yang terbuat dari beras maupun beras ketan yang berbentuk lingkaran dan runcing. Gunungan ini juga dihiasi bendera Indonesia kecil di sebelah atasnya.

Upacara Sekaten

Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari. Konon asal-usul upacara ini sejak kerajaan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam agama Islam, Syahadatain.

Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut dimainkan/dibunyikan (Jw: ditabuh) menandai perayaan sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud. Saat ini selain upacara tradisi seperti itu juga diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum penyelenggaraan upacara sekaten yang sesungguhnya

Demikian penjelasan lengkap mengenai macam macam“Upacara Adat istiadat dan kepercayaan suku jawa yogyakarta” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya



0 Response to "Upacara Adat Istiadat dan Kepercayaan Suku Jawa Yogyakarta"

Post a Comment

silahkan berkomentar dengan sopan