0 Comment
Nama Pakaian Adat Tradisional Sumatera Utara


-Pakaian Adat Sumatera Utara-Postedby-BukanTrik-, Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang terletak di pulau sumatera yang beribukota Medan di tempati oleh banyak etnis (suku) atau multietnis. dan etnis (suku ) yang mendominasi provinsi sumtera utara adalah suku Batak, suku Nias serta suku Melayu sebagai penduduk asli yang ada di wilayah provinsi Sumatra Utara.

Wilayah pesisir bagian timur dari provinsi Sumatera Utara, sebagian besar dihuni / di tempati oleh masyarakat (suku) Melayu. Dan Wilayah pantai barat mulai dari Barus sampai Natal, banyak di huni oleh suku (orang) Minangkabau. Sedangkan untuk wilayah tengah sekitar daerah Danau Toba, banyak didiami oleh Suku Batak. 

Sedangkan Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Sehingga budaya yang ada di provinsi sumatera banyak di pengaruhi budaya suku – suku ( etnis) tersebut dan salah satunya adalah Pakaian Adat tradisionalnya yang terkenal dengan nama pakaian adat ulos. Karena sumatera utara di huni oleh banyak etnis 

sehingga provinsi sumatera utara memiliki nilai budaya sendiri-sendiri dan semuanya itu menjadi keunikan budaya sumatera utara, seperti adat istiadat, rumah adat tradisional nya, tarian daerah, aneka jenis Makanan, pakaian adat serta bahasa daerah juga lagu lagu daerah sumatera utara. 

Dari beragam Budaya Sumatera Utara ini tentunya ciri keunikan yang dapat menjadi salah satu cara untuk mempromosikan kearifan budaya lokal Sumatera Utara. Yang bahkan bisa sekaligus mempromosikan tempat tempat terindah sebagai tujuan para waisatawan lokal maupun internasional

Sumatera utara memiliki pakian adat yang bernama ulos sedangkan ulos sedniri terdiri dari beberapa jenis ulos batak yang diipakai pada acara / upacara tertentu, misalnya ulos jugjaragidup, sadum, ragihotang, dan runjat. Kain ulos yang dipakai orang Batak pada upacara-upacara adat, umumnya diselempangkan kepinggangnya atau juga sebagai selendang. Khusus pada suku Batak Pakpak atau Dairi, ulos yang digunakan dominan berwarna hitam.

Sedangkan Pakaian (baju ) adat yang dipakai suku Batak Simalungun, bernama bulang. Yang mana bulang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Selain bulang, ada juga ulos suri-suri sebagai penutup kepala.

Sementara itu, suku (etnis) Batak Toba biasanya menggunakan baju dan celana yang dilengkapi dengan ulos maringin di kepala dan setengah badan. Kadang-kadang juga menggunakan ulos ragihotang yang diselempangkan dan dilengkapi dengan sarung.

pakaian adat terlihat dominan di gunakan oleh masyarakat batak (sumut )adalah pada acara / upacara adat perkawinan .dimana Pengantin pria memakai baju jas tutup warna putih, sedangkan bagian bawah memakai ulos ragi pane. 

sedangkan Pakaian adat perempuan Batak toba bagian bawahnya disebut haen yang dipakai hingga batas dada. Penutup punggung disebut hoba-hoba. Bila dipakai sebagai selendang disebut ampe-ampe. Penutup bagian kepala disebut saong. Sementara itu pakaian perempuan Batak karo terdiri atas baju tutup lengan panjang, sedangkan bagian bawahnya mengenakan sarung sungkit yang dililit kain ulos.

Berikut adalah pnjelasan pakaian (baju) adat yang di gunakan oleh kaum perempuan dan kaum laki-laki masyarakat batak sumutera utara

Pakaian adat wanita sumatera utara yang di gunakan oleh suku mandailing terdiri atas

bulang yang diikatkan ke kening. Bulang tersebut terbuat dari emas, tetapi sekarang sudah banyak yang terbuat dari logam dengan sepuhan emas. Bulang terdiri atas tiga macam, yaitu bertingkat tiga (bulang harbo/ bulang kerbau), bertingkat dua (bulang hambeng/ bulang kambing), dan tidak bertingkat. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat.

Bagian atas badan wanita tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu terbuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Baju adat ini disebut juga baju godang atau baju kebesaran. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan.

Dua lembar selendang disilangkan pada dada sampai punggung. Untuk selendang pengantin, kadang menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Selendang pengantin tersebut merupakan lambang dalihana tolu, 

tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis), sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga), dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis).

Pakaian adat pria sumatera utara yang di gunakan oleh suku mandailing terdiri atas


ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/ Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. Ampu merupakan mahkota yang biasanya digunakan raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis, sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. 

Bagian kanan ampu yang salah satu ujungnya menghadap ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. Pada masa sekarang pengantin pria menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi

Pakaian adat wanita sumatera utara yang di gunakan oleh suku nias terdiri atas


Pakaian asli wanita suku Nias hanya terdiri dari lembaran kain (blacu hitam atau kulit kayu), tanpa busana atas(baju penutup dada). Pakaian ini dilengkapi dengan aja kola dan saro dalinga. Aja kola adalah gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai satu kilogram. Sedangkan saro delinga yaitu anting logam besar yang hanya dipakai pada telinga kanan saja.

Untuk menghadiri upacara adat, biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun, yang berwarna merah, berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. Pakain ini dilengkapi dengan balahogo sokondra,yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari batu-batuan.

Bagian bawah pakaian wanita Nias disebut mukha. Untuk melengkapi pakaian ini terdapat pula sebuah selendang yang diberi nama lembe, yaitu selendang katun bermotif bunga berwarna kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna kehitaman.

Sebagai kelengkapan pakaian upacara, wanita Nias memakai beberapa jenis aksesoris. Gela gela atau tali hu adalah jenis anting yang digunakan masyarakat kebanyakan. Anting tersebut terbuat dari bahan perunggu dengan hiasan batu-batuan atau kerang. 

Fondruru ana'a adalah jenis anting yang terbuat dari emas yang banyak digunakan oleh kaum bangsawan. Demikian juga ra ni woli woli, salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornamen barisan koin emas memanjang horizontal dan di tengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daun-daunan.

Pakaian adat pria sumatera utara yang di gunakan oleh suku nias terdiri atas


baru atau baju yang terbuat dari bahan kulit kayu. Baju berbentuk rompi tanpa kancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dengan ornamen berwarna merah, kuning, dan hitam. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni'ola'a harimao, yaitu baju dengan motif kulit harimau. Selain model rompi, ada juga baju berlengan tanpa kancing yang terbuat dari kulit kayu, yaitu baru lema'a.

Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. Kalabubu adalah kalung untuk pria yang terbuat dari kuningan dan dilapisi dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). Jenis kalung lainnya adalah nifatali dan nifato-fato. Nifatali terbuat dari lilitan emas atau perak. Sedangkan nifato-fato terbuat dari lempengan kuningan, perak atau emas.

Sementara itu, salah satu penutup kepala untuk perang disebut tetenaulu yang terbuat dari rajutan rotan yang dilengkapi daun pelem sebagai penutup bagian belakang. Ada juga penutup kepala yang disebut takula yang terbuat dari daun pelem, rotan dan pelepah kelapa.

Secara keseluruhan pakaian pengantin Nias tampak sederhana. Hal tersebut juga menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. sebelum mengenal pengaruh dari luar, dahulu pakaian tradisional Nias terbuat dari bahan kulit kayu. 

Namun, kini pakaian pengantin telah menggunakan bahan beludru. Warna hitam, merah, kuning, emas mendominasi pakaian adat pengantin Nias. Dalam pakaian adat pengantin ini tampak adanya pengaruh unsur-unsur Melayu.

Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. Kemudian, dihiasi dengan mahkota atau rai. Baju berbentuk jubah hitam yang berhiaskan motif binatang dari beludru merah tersebut dipadukan dengan kabo, kain hitam dengan ornamen geometris segitiga 

berbaris di sisi pinggirnya, yang disarungkan ke kiri. Untuk kelengkapannya mempelai wanita mengenakan seledang (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). Perhiasan yang digunakan adalah sialu fondreun (anting-anting), alga kala bubu (kalung), dan gala (gelang).

Pengantin Pria mengenakan celana hitam selutut, baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah, kuning di bagian depan, separuh leher dan lengan. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. Selembar ondora atau selendang warna kuning dililitkan di pinggang

Demikian penjelasan lengkap mengenai macam macam “Nama Pakaian Adat Tradisional Sumatera Utara Batak Karo Medan” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya


Post a Comment

silahkan berkomentar dengan sopan

 
Top