0 Comment
Keunikan Rumah Adat Papua Rumah Hanoi (Penjelasan dan gambar)

Keunikan-Rumah-Adat-Papua-Rumah-Hanoi-Penjelasan-dan-gambar

-Rumah Adat Papua-Postedby-BukanTrik-Rumah adat tradisional Honai merupakan rumah adat papua yang sering di gunakan sebagai rumah adat tempat bermusyawarah untuk kepentingan mengadakan pesta adat dan perang suku. Sedangkan Honai bagi kaum perempuan disebut “Ebeai,” yang terdiri dari dua kata, yakni “Ebe” atau tubuh dalam pengertian kehadiran tubuh dan “Ai”yang berarti rumah. Nama honai laki-laki dalam bahasa Lani disebut “ap inakunu” dan honai perempuan disebut “kumi inawi.” Orang Lani mempunyai tiga honai, yakni honai bagi kaum laki-laki, honai perempuan dan honai yang dikhususkan untuk memberi makan atau memelihara ternak seperti babi

Honai memang memiliki nilai filosofis yang mendalam. Sebab pada rumah tradisional inilah tempat generasi awal masyarakat pegunungan tengah Papua dilahirkan dan dibesarkan. Honai juga menjadi tempat belajar mengenai arti kehidupan dan hubungan timbal balik antara manusia dengan alam sekitar maupun dengan sang pencipta. Jadi tentu tidak ada kata lain lagi, keunikan honai patut dijaga agar tidak cepat tergerus perkembangan zaman

Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan honai biasanya berupa rotan, tali hutan, alang-alang, belahan kayu atau papan yang digunakan sebagai dinding dan kayu khusus untuk tiang penyangga. Tali hutan khusus dan rutan akan digunakan sebagai pengikat.

Keunikan bentuknya honai dibangun berbentuk bulat dan pada atap bagian atasnya yang berbentuk kerucut atau kubah (dome) di tutup dengan alang-alang. Garis tengah (diameter) mencapai 5 sampai 7 meter, tergantung tujuan pemanfaatannya. Honai bagi kaum perempuan, bentuknya lebih pendek

Honai sengaja dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela yang bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri.

Rumah Honai biasa ditinggali oleh 5 hingga 10 orang. Rumah Honai dalam satu bangunan digunakan untuk tempat beristirahat (tidur), bangunan lainnya untuk tempat makan bersama, dan bangunan ketiga untuk kandang ternak.Rumah Honai pada umumnya terbagi menjadi dua tingkat. Lantai dasar dan lantai satu dihubungkan dengan tangga dari bambu. Para pria tidur pada lantai dasar secara melingkar, sementara para wanita tidur di lantai satu

Pada ruang bawah honai laki-laki dewasa biasanya digunakan sebagai tempat pertemuan, diskusi, berdemokrasi,berdialog dan berdebat mengenai perang, kehidupan ekonomi, keamanan daerah, membagi pengalaman dan memikirkan tentang kesinambungan hidup. Selain itu, digunakan pula sebagai tempat penyimpan harta benda, termasuk menyimpan mumi (mayat yang diawetkan) bagi suku Dani, dan fungsi-fungsi lain sesuai kepentingan pemiliknya. Sedangkan pada ruang atas sering digunakan sebagai kamar tidur.

Sedangkan honai bagi kaum perempuan biasanya dikhususkan bagi ibu-ibu, anak-anak perempuan dan anak-anak lelaki yang masih kecil. Seperti honai pria, pada honai perempuan juga akan berlangsung proses pendidikan secara terus-menerus bagi anak-anak perempuan. Keberadaan honai perempuan bagi anak-anak lelaki yang masih kecil hanya bersifat umum, sehingga setelah mulai beranjak remaja mereka akan berpindah ke honai laki-laki.

Dalam membuat honai, posisi pintu biasanya berada pada arah terbit dan terbenamnya matahari. Pintu itu juga berfungsi demi keamanan penghuninya jika ada serangan tiba-tiba dari musuh atau kebakaran. Boleh dibilang bahwa sejak awal honai telah menjadi tempat tinggal tetap bagi nenek moyang suku Dani. Ini kemudian bisa menghambat perpindahan mereka dari satu wilayah ke wilayah lain.

Dalam rumah honai tradisional, umumnya tidak memiliki cerobong (saluran) pembuangan asap hasil pembakaran. Inilah masalah terbesar penyebab gangguan kesehatan pernafasan pada masyarakat lokal yang kini masih mempertahankan honai sebagai rumah tinggal

sejauh ini ada anggapan miring bahwa masyarakat asli papua di Pegunungan Tengah biasanya tidur bersama ternak babi di dalam honai mereka. Dan anggapan itu salah besar Sebab ada honai yang dibangun khusus untuk memelihara babi

Demikian penjelasan lengkap mengenai nama“Keunikan Rumah Adat Papua Rumah Hanoi (Penjelasan dan gambar)” semoga dapat bermanfaat, terima kasih untuk kunjungan ke blog BukanTrik. Silahkan baca juga artikel terkait lainnya


Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan sopan

 
Top